Wednesday, September 17, 2008

cerpenku yang ga dimuat di annida, hehehe

“Jilbab itu tidak wajib”

Entah kenapa, terduduk di masjidil haram, kata-kata itu terngiang lagi ditelinga Ri. Saat ini pukul 7 pagi waktu Mekkah. Tris pasti sudah tertidur nyenyak dikamar hotel setelah tawaf dan sa’i dini hari tadi. Ternyata memang cukup melelahkan. Tapi bagi Ri, duduk ditangga ini merupakan kenikmatan sendiri. Memandangi putaran-putaran manusia mengelilingi ka’bah yang tak pernah berhenti. Ri tersenyum kecil. Pikirannya melayang-layang ke tanah air.

“Jilbab itu tidak wajib”

Tergiang lagi. Sekali ini Ri nyaris tergelak mengingat ekspresi teman-temannya mendengar komentar Mbak Nia. Mereka semua nyaris terjungkal dari kursinya masing-masing. Siapa yang tidak kaget, seorang aktivis Rohis tiba-tiba berkata begitu ?

“Lho, betul kan ?”dengan mimik lucu, Mbak Nia berkata lagi. “Coba deh, perhatikan lagi…memangnya ada pernyataan yang jelas bahwa jilbab itu wajib ?”

“Wah, gak beres ini”Ri mendengar teman-teman mulai berkomentar. Kalau ini lelucon, Mbak Nia bisa diamukin massa nih.

“betul kok !”suara Mbak Nia masih terdengar mantap. “Yang wajib itu menutup aurat, betul kan ?”

Haaaaaaaaaah….

Massa akhirnya ber-koar kompak. Aduh, mbak Nia bikin deg-degan aja deh!

“Duh, kirain betulan Mbak Nia, udah siap-siap buka jilbab nih…”Ri berkata sambil mengedipkan matanya. Tangannya mengenggam ujung jilbab, siap untuk dibuka.

“Betul kan ? kalau di kutub utara ada orang eskimo masuk Islam, aurat mereka kan sudah tertutup rapat, ngapain pakai jilbab ?”katanya lagi.

Suasana langsung heboh. Ide dikutub utara ada orang Islam menggairahkan mereka semua.

“Asyik banget. Gak perlu ngebongkar celengan, cari pinjaman sana-sini buat beli baju muslim…”kata Nani serius. Dia memang mempunyai kesulitan keuangan.

“Gak perlu berubah penampilan, jadi gak usah mengalami masa-masa gak punya teman…”Rika yang tomboy unjuk pendapat.

“Gak perlu capek-capek menjelaskan ke semua orang, kenapa kamu pake jilbab !”Kata Novi.

“Yang pasti….”Tris nyengir lebar. Duh, nih anak pasti mau kasih komentar yang ngaco deh.

“Gak perlu ngerasain tertusuk peniti melulu….”

Ri tersenyum lebar. Ingatannya kembali ke masa transisi mereka, ketika jemari Tris penuh dengan tensoplast.

“berdarah-darah terus nih, kena peniti”katanya dihari ketiganya pakai jilbab. Dengan wajah memelas, Ia menunjukkan 3 jari tangannya yang kena “korban”.

Bagi Tris, darah adalah momok yang mengerikan. Makanya dia itu anti sekali sama film-film action. Walaupun sudah diberitahu berkali-kali kalau itu cuma darah bohongan, tapi tetap saja katanya, dia tak bisa menghilangkan rasa lemasnya melihat darah.

“Sebelum kamu gape memakai jilbab, kamu keburu harus ditransfusi darah deh Tris..”canda Meita. Waktu itu ramai sekali. Semua jadi ikut ambil bagian untuk menggoda Tris.

Tapi tampaknya Tris betul-betul takut dengan komentar teman sebangkunya itu. Seingat Ri, setelah itu jemari Tris tak pernah lagi terluka. Rupanya dia terus giat berlatih supaya tidak ceroboh lagi. Hahaha, polos sekali Tris itu. Ri menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tapi kepolosan Tris ternyata mengantarkannya dan Ri duduk di masjid ini. Entah berapa banyak Muslim yang merindukan untuk melihat ka’bah, tapi sekali ini Ri dan Tris yang berkesempatan jadi tamu Allah di kota ini. Betul-betul tidak disangka-sangka.

Ri masih terduduk ditangga masjidil haram ini. Masih memandangi lingkaran manusia di ka’bah itu. Pertama kali dalam hidupnya ia bertemu dengan manusia-manusia dari berbagai macam ras dan bahasa. Mereka semua bertemu disini karena satu persamaan, karena sama-sama muslim.

Manusia-manusia itu pulalah yang mengingatkan Ri pada pernyataan Mbak Nia tempo dulu. Padahal itu sudah bertahun-tahun berlalu.

Ri baru menyadari kalau masing-masing manusia menutup auratnya berdasarkan budayanya masing-masing. Ri takjub sekali. Contohnya, Ia baru tahu, kalau muslimah arab menggunakan jilbab tanpa peniti sama sekali.

waktu itu Tris terlonjak-lonjak kaget,

“Curang”katanya gemas. “kalau begitu dari dulu aku belajar tanpa menggunakan peniti…”

Ri dan Tris sama-sama menahan nafas saat memperhatikan seorang perempuan arab membetulkan kain hitamnya yang panjang itu. Dengan lihai, kainnya melingkar, membebat, disampirkan ke kiri..kanan..dan kemudian…kabuuum…dalam sekejap jadilah sepotong jilbab terhampar tanpa peniti. Tinggallah Ri dan Tris terbengong-bengong dan berdecak kagum.

“Ah…tidak jadi..”kata Tris. Wajahnya masih melongo kaget.

“Bisa habis waktuku belajar memakainya seperti itu”

Ri tergelak membayangkan Tris bersusah payah melilitkan kain panjang itu dilehernya. Lucu sekali ! tapi Ri langsung terdiam waktu perempuan tadi melirik mereka dengan wajah masam. Duh ! Tris buru-buru menarik Ri pergi.

Lalu ada perempuan mesir dengan jilbabnya yang bercorak, datang dengan mendekap bayinya yang tampan sekali. Tris hampir saja bertepuk tangan ketika ia memutuskan mengambil shaf disebelah Tris. Perempuan itu tersenyum ramah sambil mengoceh dalam bahasa arab.

“Aku menyesal sekali tak bisa bahasa arab…”dengan kecewa Tris berbisik pada Ri.
Tapi itu tidak mengurangi semangatnya. Lalu mereka pun terlibat percakapan yang entah kenapa, rasanya nyambung-nyambung saja. Buktinya Tris akhirnya berhasil menggendong bayi itu sebelum adzan subuh akhirnya berkumandang, dan ia pun berkata,

“Namanya Ahmad, usianya 6 bulan”katanya sambil nyengir lebar. “Mereka datang dari Mesir. Lihat, lucu banget ya ?”

Ri cukup terbengong saja. Sepertinya ditempat seperti ini, tidak ada yang menghalangi mereka semua untuk menjalin ukhuwah. Bahkan bahasa pun juga bukan penghalang.

Ini disadari Ri, karena jam 3 subuh tadi, Ri pun berkenalan dengan seorang perempuan Canada. Mereka duduk berdampingan, bersama dengan putrinya yang berusia 7 tahun, Sarah. Sebenarnya, sarahlah yang pertama kali membuka percakapan. Ia tak henti-hentinya melirik Ri dan tersenyum manis. Menggoda Ri untuk menyapanya. Lalu percakapan antar dua warga asing pun mengalir begitu saja. Rupanya perempuan itu dan suaminya hampir selalu menyempatkan diri mampir berumroh setiap kali mengunjungi keluarganya di London. Mereka menghabiskan waktu dua kali lipat dari waktu yang digunakan Ri dan Tris untuk datang ke Mekkah ini. Bukan main.
Jilbab yang mereka pakai sama seperti jilbab-jilbab yang dipakai orang-orang Bosnia dan Eropa yang biasa Ri lihat di tivi. Sederhana dan praktis sekali. pada saat itulah, Tris menarik Ri untuk mengambil wudhu dan menempati shaf. Waktu solat subuh hampir tiba. Ri tidak sempat menanyakan alamat e-mail perempuan itu.

“Jangan disitu…”Tris menarik tangan Ri yang mengambil shaf di tempat-tempat warna putih berkibaran. Warna khas mukena Warga Indonesia.

“Itu tempat orang-orang Melayu berkumpul”kata Ri menjelaskan. Tapi Tris terus menarik tangannya.

“Gak seru kalau disitu…”kata Tris.

“Disini saja”

Tris langsung terduduk. Dan Ri jadi faham kenapa. Disekeliling mereka begitu banyak anak-anak. Tempat favorit Tris. Padahal berisik sekali. kepolosan anak-anak itu membuat mereka jadi tidak bisa diam. Berlari kesana kemari. Bermain, seakan-akan ini taman bermain. Tapi tris tersenyum senang. Anak-anak arab itu memang tampan-tampan dan cantik-cantik sekali. Juga begitu menggemaskan. Tris jadi sibuk tebar-tebar pesona, supaya anak-anak itu memperhatikannya. Dan disinilah mereka bertemu perempuan mesir tadi.

Warna-warni jilbab. Ri tersenyum. Tiba-tiba di kota ini, perbedaan cara pemakaian jilbab tidak bisa lagi digunakan untuk menilai kadar iman seseorang. Ini hanyalah perbedaan apresiasi menutup aurat. Dan saat ini perbedaan ini terasa indah sekali bagi Ri. Begitu kaya budaya.

Bagaimanapun, pakaian tetaplah pakaian dengan fungsinya. Lalu kenapa manusia selalu sibuk menilai manusia yang lainnya dengan pakaian yang mereka pakai ?

“Ri”

Suara Tris.

Ri menoleh. “Hei, sudah bangun ?”

“Ngapain sih kamu disini ?”

Tris mengambil tempat disebelahnya. Matanya masih terlihat ngantuk.

“Aku lagi merhatiin mereka-mereka yang lagi tawaf”
Ri menunjuk ke arah ka’bah. “Putaran itu tak pernah berhenti, kecuali waktu solat, kamu perhatiin gak ? jam berapa pun pada saat apapun”

Setengah mengantuk Tris memandang ke ka’bah. “Trus kenapa ?”

“Seperti…..”Ri tergagap mencari kata-kata yang tepat untuk dikatakan.

“Pusaran langit….”Tris berkata.

“Pusaran berisikan doa-doa itu terus berputar sampai ke langit…Menembus galaksi sehingga doa pun menggema sampai ke seluruh jagat raya…”

Sesaat Ri bengong.

“iya…”nadanya terdengar kagum.
“memang itu yang kurasakan…”

Ri memandang ke arah ka’bah lebih fokus lagi. Tiba-tiba ia seperti mendengar do’a-do’a menggema keseluruh penjuru. Seluruh alam bertasbih melantunkan nama-Nya. Tubuh Ri tiba-tiba bergetar. Takjub.

“Hebat kamu, Tris…”kata Ri.

Tris menguap. “Hebat apanya ? itu kan yang dikatakan sama Pak Roy waktu kita manasik umroh !”

Gedubrak ! Ri merosot dari tangga. Duh ! kirain itu kata-kata Tris sendiri ! dengan bersungut-sungut, Ri mengusap-usap badannya yang terantuk tangga.

“Yang keren itu suasananya”kata Tris tanpa mempedulikan Ri. Nada suaranya terdengar lebih segar.

“hmm ?”Ri mengernyitkan dahi. Ia begitu fokus pada ka’bah jadi lupa sekelilingnya.
“Ri perhatiin gak, di masjidil haram, laki-laki dan perempuan masuk dari pintu yang sama. Mereka bisa bertemu, hilir mudik bahkan bertabrakan disini.”kata Tris lagi.

Heh ? Ri memandang sekeliling. Betul juga. Masjid dimana pun pasti memisahkan tempat solat laki-laki dan perempuan. Tapi justru di masjid ini tidak. Kenapa ia tidak perhatikan sebelumnya ya ?

“Akibatnya, jadi seperti itu…”Tris menunjuk ke seberang tangga mereka. Masjid ini berbentuk segi empat, mengelilingi ka’bah. Diseberang Ri juga ada tangga-tangga, yang juga bisa dipakai untuk duduk memandang ka’bah. Ri baru menyadari, selama ini, bukan hanya dia yang duduk diam disini.

Sekali ini, yang ditunjuk Tris adalah sepasang laki-laki dan perempuan sedang terduduk diseberang sana. Dipangkuan mereka masing-masing ada satu anak laki-laki. Disebelah perempuan itu terdapat keranjang bayi. Tak ada yang mereka lakukan. Hanya diam memandang ka’bah. Seperti Ri.

“Lalu itu…”

Tris menunjuk ke arah ka’bah. Sepasang suami istri bergandengan tangan tengah melakukan tawaf.

Ri menghela nafas. Lalu ia melirik Tris yang nyengir lebar sambil bertopang dagu. Sinar matanya tampak berbinar-binar.

“Romantis, kan ?”katanya.

Lucu. Ri tersenyum. Tapi memang seperti itulah Tris. Kalau ada orang yang menilai masjidil haram adalah tempat yang romantis, itu pastilah Tris orangnya.

Tapi tiba-tiba raut wajah Tris berubah. “Eeeh…itu…”Suaranya nyaris berteriak sambil menunjuk ke ka’bah.

“Apa, Tris ?”

“Wah…gak sopan…perempuan itu mencopet gelang anak kecil itu !”Tris terlonjak-lonjak gemas.

Ri memandang seorang anak kecil yang sedang digandeng Ibunya mengelilingi ka’bah. Tapi ia tak melihat apa-apa. Seorang perempuan berjilbab hitam dan bercadar yang ditunjuk Tris berjalan begitu saja melewati mereka tanpa rasa bersalah.

“Waah…gimana sih ? kan mereka sekeluarga lagi umroh..”nada suara Tris terdengar kecewa. Matanya masih menelusuri perempuan tadi sampai pupus dari pandangan.
Manusia, dimanapun tetap saja manusia. Walaupun ditempat ibadah seperti ini. Tris terduduk lemas. Ri merangkul Tris yang tampak kecewa perspektifnya yang indah tentang masjidil haram tiba-tiba tercoreng dalam sekejap.

“Kamu gimana sih, tadi juga Pak Tanto dan Sigit kehilangan sendal jepit mereka. Kenapa sampai shock begini ?”Ri mencoba menghibur dengan membicarakan beberapa orang dalam rombongan mereka.

Tris mencibir. “tapi ini kan didepan ka’bah”

“Apa bedanya ? kalau nyopet ya nyopet saja !”kata Ri.

“Riana dan Tristin ya ?”
Suara Pak Roy. Tris dan Ri menoleh kebelakang.

“Aduh, anak gadis jangan duduk disini sembarangan. Berbahaya !”Pak Roy menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya berkecak pinggang.

Tris dan Ri berdiri sambil nyengir lebar. “kami cuma memandangi ka’bah, Pak” mereka berkata kompak.

“Bapak kan sudah pesan, anak gadis harus ditemani dengan muhrimnya !”

Tris dan Ri saling pandang.
“Ayo, kembali ke hotel, sarapan sudah sejak tadi. Bapak dari tadi bingung kalian ada dimana. Gak bilang-bilang lagi !”Mata Pak Roy membulat sebal.

Tris dan Ri tidak berkata apa-apa lagi. Bergandengan tangan, mereka berjalan mengekor Pak Roy yang berjalan didepan.

“Tris…”

“hhmm…?”

“bilang yang jujur ya…”

“apa ?”

“Dulu, apa alasanmu pakai jilbab ?”tanya Ri.

Dahi Tris mengernyit. “karena wajib kan, kok pakai ditanya lagi sih ?”

“cuma itu ?”

“memangnya Ri dulu pakai jilbabnya kenapa ?”Tris balik bertanya.

Ri tak menjawab.
Kalau dipikir-pikir, sepertinya tak banyak orang yang memutuskan pakai jilbab dengan alasan yang betul-betul tulus seperti Tris. Karena menutup aurat itu wajib.
Kalau Ri mau jujur, hanya alasan seperti itu saja, takkan membuat seorang Ri memutuskan untuk menutup auratnya. Alasan sederhana seperti itu tidak akan cukup bagi Ri. Ia membutuhkan berbagai alasan yang membuatnya cukup masuk akal untuk memakai jilbab. Keputusan yang berat!

“Ri….”Tris menoleh ke arahnya sambil tersenyum penuh arti. Lalu Ia berbisik,

“Kapan-kapan kita kesini lagi yuk, berdua lagi !”
Ri melongo. Sepertinya Tris sudah lupa kalau perjalanan saat ini betul-betul menguras uang mereka. Begitu banyak biaya, dan belum lagi waktu luang yang mungkin takkan mudah mereka dapatkan lagi. Tapi sinar mata Tris tampak begitu bersemangat. Suaranya juga penuh optimisme.

Ri tersenyum kecil, “Oke deh…”

(dibuat untuk mengenang pengalaman umroh 1999. Thanks buat bang ekky yang pertama kali bilang romantisnya Masjidil haram, hehehe)

Camar

S A T U

Aku adalah burung camar yang terperangkap oleh sugestinya sendiri. Aku pernah berfikir, aku takkan pernah bisa lepas dari pantaiku. Jika aku pergi, aku akan mendengar gelombang pantai berseru menyuarakan kerinduan. Lalu desah angin menari bersama lambaian daun merebakkan wangi.


Aku adalah burung camar yang baru saja disadarkan akan anugrah kedua sayapku. Dengan bulu-bulunya indah dan kepakannya yang sanggup memanggil ribuan angin berkumpul bersamaku. Aku mencoba melompat tinggi ke angkasa, tapi aku selalu kehilangan atmosfer. Maka aku akan kembali mencari nafasku yang tertinggal pada dahan. Kucoba lagi dan terus kucoba, tanpa kusadari lompatanku semakin tinggi. Aku mulai belajar menyimpan udara dan menahan nafas. Kadang aku jadi lupa menatap langit dan menikmati birunya. Tapi aku bisa melompat.


Jika kugerakkan sayapku, suaranya menyadarkanku bahwa aku bisa terbang. Bahkan mungkin menukik, menari, dan melayang, seperti burung-burung yang lain. Maka aku mulai belajar mengepakkan sayap. Semakin hari semakin kencang, tetapi aku tak juga beranjak dari pijakan. Angin-angin yang berkumpul tanpa ragu merayuku untuk mulai bergerak. Mereka lelah menerbangkan daun-daun dan ranting-ranting. Mereka sudah bosan menggerakkan dahan.


Maka aku pun tertatih berjalan, lalu mulai melompat. Aku membumbung ke angkasa. Dengan gugup, kucoba menyeimbangkan nafasku dengan gerak sayapku.

“Cobalah melayang”bisik Angin.

Aku menghentikan kepakanku. Aku melayang !! Aku menatap sekeliling.

“Aku melayang, angin”desahku.

Kubiarkan langit biru tersenyum merangkulku. Lalu awan-awan putih berarak mengiringi langkahku. Aku hanyut sebentar. Tiba-tiba sesuatu menyusup kedadaku. Membuatku sesak. Keseimbanganku goyah.

“Tenang Camar, kau punya kami”hibur Awan putih.

Aku menggeleng. “Aku tidak bisa bernafas. Aku harus kembali”

Langit biru melepaskan rangkulannya dengan berat hati.

“Kerinduan telah memenjarakanmu”katanya.

“kau harus bisa mengatasinya, atau kau takkan pernah lepas.”

“Aku adalah burung camar”Aku mengingatkan.

“Aku takkan pernah lepas”

Angin dengan lembut membimbingku mendarat.

“Besok cobalah lagi. Kita akan belajar menari”katanya.

Aku mencoba mengatur nafasku kembali.

“Rasanya sesak sekali. Entah apa aku masih bisa berlatih”Aku mengatakan keenggananku.

“Tentu saja ingin. Kau sama sekali belum berkunjung. Aku baru saja menemanimu meraih langit, tapi kau lupa menatap ke bawah. Apa kau tak ingin tahu, seperti apa lautan dari sudut lain?”tanya angin.

Aku tercenung. Aku jadi ingin bertanya, apa gunanya mengetahui lautan, untuk apa meraih langit, dan apa artinya belajar terbang. Tapi aku mengangguk jua. Dan kami pun membuat janji untuk bertemu esok pagi.

D U A

Entah kini sudah minggu keberapa, aku mengarungi langit biru bersama angin. Awan-awan putih bahkan memanjakanku dengan membiarkanku bermain sepuasnya menerjang dan menukik diantara mereka. Terkadang mereka menertawakanku yang masih tersenggal-senggal dan terbelenggu kerinduan.

“Suatu hari kau akan lupa pulang”kata Mereka.

Tapi aku tak pernah percaya.

Dan ternyata pasir-pasir dipantaiku pun sudah mulai menyerukan rasa keberatan. Katanya aku terlalu asyik dilangit, hingga terkadang lupa bahkan hanya sekedar untuk menyapa mereka. Bahkan batu karang ikut mengingatkanku akan kesenanganku bertengger dibahunya yang kini sudah hampir kulupakan.

Tapi semua itu seperti tak ada artinya bagi angin.

“Kau bahkan belum berkunjung” Ia selalu berkata.

Angin masih punya banyak rencana untukku.

Seperti hari ini, seperti biasa, aku mulai bersiap memulai lompatanku. Angin, dengan sabar menantiku di atas sana.

“Cobalah kemari”serunya.

“Aku ingin tahu, sudah seberapa jauh kau mampu melaju !”
Aku melompat sekuat tenagaku. Lalu mengepakkan sayapku sepenuh hati. Langit biru kembali merangkulku, dan aku terbang bersama burung-burung yang lain. Awan-awan putih pun masih setia mengiringiku. Tapi angin, entah dimana.

“Aku ingin mencoba lebih tinggi”desahku.

“Apa aku mampu ?”

Aku tak mendengar komentar awan, juga seruan langit. Entah apa yang mereka katakan. Aku terus melaju ke atas. Seberkas sinar menangkapku. Aku tahu, ini milik matahari. Tapi aku belum pernah melihatnya secara utuh. Angin selalu melarangku mendekatinya.

“Selamat siang, matahari !”seruku.

Aku melihat senyum matahari ! menyembul dibalik sinar-sinarnya yang menyilaukan. Ia tampak begitu megah.

“Halo Camar. Sepertinya kau sudah mulai bisa mengatur nafasmu”katanya.

Ini pertama kalinya aku mendengarnya berbicara. Begitu berat dan lugas.
Aku berusaha lebih dekat lagi, tetapi bulu-buluku terasa memanas. Aku meringis kesakitan.

“Sebaiknya kau pergi, sebelum mengalami luka bakar”nasehat matahari.

“Tapi aku ingin jadi temanmu”aku berkata.

Aku mendekat lagi. Dan kini, sayapku mulai susah digerakkan. Ia ciptakan rasa nyeri yang dasyat.

“Kita adalah teman. Ingin kau buktikan apalagi, Camar ?”tanya Matahari.

“Apakah hangatku tak pernah samapai padamu ? Adakah desir kepakanmu tak pernah mampi ke telingaku ?”

Langkahku terhenti. Aku terpana.

Tiba-tiba angin merangkulku dari belakang, dan awan-awan putih berkumpul menutupi cahaya matahari. Warna mereka semakin lama semakin hitam.

“Mari kita pulang, camar”Bisik Angin.

“Sebentar lagi hujan turun”

Sebelum pergi, aku berusaha mencari jejak matahari. Tapi tak kutemukan jua. Aku pun turun kembali ke sarang. Aku tak mengerti mengapa berusaha dekat dapat pula menggores luka. Maka kuhabiskan sisa hari itu untuk membasuhnya. Angin, entah dimana.

T I G A

Kemarin aku baru saja dipertemukan dengan keindahan yang mempesona. Senja itu, ia tiba-tiba saja hadir menghiasi telaga tempat aku biasa berteduh. Begitu indahnya, hingga mempesonaku tanpa ampun. Aku pun terbang menghampirinya.

“Halo Camar !”Ia menyapa lembut.

Aku terkejut bukan main. Tapi ia langsung menghilang, entah kemana. Aku baru tahu dari angin, bahwa ia bernama pelangi. Ketika aku bertanya dimana aku bisa menjumpainya, angin hanya tersenyum penuh arti.

“Kau hanya bisa menantinya datang mengunjungimu”katanya.

Aku tak mengerti.

“Tunggulah ia, camar, dan ia akan mengajarimu tentang cinta.”

Dan aku menunggunya hari ini. Aku terus melayang mencarinya di sudut-sudut senja karena aku tak ingin ia menghilang lagi seperti kemarin. Tapi lautan dan batu karang menertawakanku melalui gemuruhnya. Aku tak mengerti.

Tiba-tiba awan-awan putih berubah menjadi hitam, dan matahari bersembunyi dibalik gelap.

“berteduhlah Camar, sebentar lagi hujan datang”tegur Angin.

Dan aku pun berteduh diantara batu karang, meski aku tak mengerti, mengapa aku harus berhenti melayang, hanya karena kehadiran hujan.

“Karena hujan mengundang dingin untuk menyergapmu”Angin pernah berkata.

Tapi aku tak berkeberatan sesekali menjamu dingin bertamu ke tubuhku. Dan aku juga ingin sesekali bercakap-cakap dengan hujan. Mungkin saja ia bisa membantuku menemukan pelangi. Aku ingin tahu, kekuatan apa yang ia miliki, hingga terkadang ia mampu membuat angin mengumbar marah, hingga menggetarkan seisi alam.

Dan hujan pun berhenti. Pergi meninggalkan jejak-jejak embun dan kesegaran udara yang jernih sekali. Aku melayang rendah. Sinar matahari terasa hangat diantara bulu-buluku. Ah itu dia. Aku tersenyum senang. Pelangi, dengan kecermelangan warnanya menyembul diantara awan-awan.

“Halo Camar”sapanya lagi.

Aku terbang mengelilinginya. Aku baru tahu, ternyata ia hanya bias cahaya yang tak mampu digenggam, seperti fatamorgana.

“Mungkin aku fatamorgana yang nyata”seperti membaca pikiranku, ia berkata.

“Ajari aku tentang cinta”Aku memohon.

Pelangi tertawa.
“Mengapa kau bertanya pada ilusi yang sebentar lagi akan lenyap ?”

Aku tak menjawab. Tapi hatiku tak berhenti mengagumi keindahannya.
“Kau sungguh indah”kataku.

“keindahanku nyata. Tapi tidak abadi”ia berkata.

“setidaknya engkau nyata”Aku bersikeras. Mengapa harus abadi, jika keindahan yang nyata ada didepan mata ?

“Aku adalah bukti cinta”Pelangi berkata.“Karena, aku ada atas pertemuan butir cahaya dengan butir air sisa hujan. Setiap pertemuannya menyiratkan cinta. Setiap getarannya menebarkan rindu. Dan semua itu direkam dengan adanya kehadiranku.”

“Engkau sangat indah. Ornamen cinta yang agung. Sunggu bukti cinta yang jelas”aku berkomentar.

Pelangi tertawa. Dan ia mulai membias sedikit demi sedikit.
“Aku adalah fatamorgana yang nyata. Sebentar lagi aku menghilang. Apakah itu cinta ?”Ia menggeleng sendiri.

“Jangan bertanya tentang cinta padaku. Aku hanya sebentuk ilusi.”

Dan kini ia benar-benar menghilang. Aku mengantar kepergiannya dengan berat hati. Tak ada kata-kata perpisahan. Atau memang tak perlu ada. Seperti kata angin, aku hanya perlu menantinya untuk datang lagi. Memantul di tepi telaga. Seperti kemarin.

(dibuat tahun 1998......woow...udah 10 tahun yang lalu ya...)

kawin lari

Dulu, sewaktu aku masih kuliah, dalam salah satu mata kuliahku, ada seorang dosen yang menerangkan tentang "kawin lari" dalam adat suku-suku di Indonesia. Kalau tidak salah, waktu itu sang dosen menjelaskan bahwa kawin lari artinya lari dari adat, atau lari dari ketentuan adat yang berlaku dalam satu suku tertentu. Aku sendiri sudah lupa, alasan apa saja tepatnya yang menyebabkan akhirnya ada budaya kawin lari dalam setiap suku, tapi biasanya kawin lari terjadi karena beratnya hukum adat yang harus dipenuhi sebelum sang bujang bisa menikahi gadis pujaannya.


Waktu mendengarnya, aku senyum-senyum sendiri karena aku sebenarnya adalah salah satu hasil "produk" kawin lari itu sendiri. Dan ternyata, hampir di seluruh keluargaku ada sejarah melakukan kawin lari. kalau alasan keluargaku sih, biasanya karena perbedaan suku dan besarnya mahar yang di minta. Mungkin ini juga yang menyebabkan aku punya banyak sekali saudara dan besan dari beraneka suku di Indonesia.


Kalau dirunut-runut, yang pertama kali melakukan kawin lari sepertinya adalah ayah dari ayahnya ibu, alias sang kakek buyut. Jadi ceritanya, kakek buyutku yang bersuku bugis itu adalah seorang pengawal raja. Suatu hari, sang raja berkeinginan ingin menikah lagi, namun sang ratu menolak untuk dimadu dan memilih untuk bercerai. Nah, kakek buyutku itu yang ditugaskan untuk mengantarkan sang "mantan" ratu kembali ke kampung halamannya. Entah karena apa, rupanya ditengah perjalanan, kakek buyut dan mantan ratu saling jatuh cinta, dan akhirnya kawin larilah mereka. Kakek buyut itu tidak pernah kembali ke istana.


Serunya, kejadian ini juga terjadi pada anaknya, yaitu kakekku. Ketika merantau ke Jakarta, kakekku ini bertemu dengan nenekku yang bersuku Lampung (kakekku ngontrak rumah rame2 ma temen2nya, dan nenekku ini anaknya yang punya rumah, hehehe). Pada zaman itu, pernikahan antar suku masih ditentang/dilarang, belum lagi nenekku ternyata adalah "putri mahkota" sebuah kerajaan kecil di Lampung sana. Maka tidak ada jalan lain, selain untuk melakukan kawin lari.


Langkah-langkahnya adalah seperti ini, kakekku bertandang ke Lampung, kemudian "diangkat anak" oleh salah satu besan nenekku. Dengan pesta adat yang cukup meriah, resmilah kakekku menjadi orang Lampung dengan pemberian nama gelar. Namun ternyata syarat berpindah suku saja tidak cukup. Jadi menurut adat, kakekku harus berhasil "menculik" nenekku dari rumah dan membawanya pergi ke Jakarta dengan meninggalkan sejumlah uang untuk "mahar" atau "tanda mata". Kejadian ini seru sekali, karena ayah nenekku beserta keluarga mengejar kakek dan nenenkku sampe ke pelabuhan dengan membawa-bawa golok. Menurut adat, kalau sampai mereka tertangkap, darah kakekku itu halal dan kakekku harus membayar dengan nyawanya....hiiiiy.


Tapi untungnya kejadian itu berakhir dengan happy ending (ya iya lhaaa..), kakek nenekku berhasil lolos, dan saat menikah di Jakarta, mereka menyelenggarakan pesta cukup meriah. Sang mertua dan besan pun mengaku kalah dan datang ke pesta dengan damai.


Tapi bukan berarti adat "menculik" anak gadis dan melakukan kawin lari itu selamanya menyenangkan lho. Karena menurut adat, sang bujang dapat "menculik" sang gadis, tapa persetujuan sang gadis, tapi tetap dianggap resmi menjadi suami istri.


Adik nenekku, termasuk orang yang mengalami kejadian tersebut, dua kali!! Jadi rupanya, sewaktu muda, adik nenekku ini (kami memanggilnya Binda), terkenal gadis yang cantik dan kemayu, sehingga banyak laki-laki yang tertarik padanya. Kejadian pertama terjadi waktu beliau dalam perjalanan pulang ke rumah, seorang laki-laki langsung menculiknya dan mengklaim untuk menjadikannya istri. Nah, keluarga nenekku untungnya tidak terima dan tidak tinggal diam, maka "misi pengembalian" pun dilaksanakan dengan jalur hukum negara. Eeeh, baru saja dipulangkan, rupanya salah satu besan nenekku yang membantu proses "pengembalian" malah balik menculik beliau, karena ikutan "naksir". ampun. Maka, misi kedua terpaksa digelar lagi...


Setelah kejadian kakek-nenekku, semakin banyak saudara-saudara mereka yang menikah lain suku, tanpa kesulitan seperti yang dialami kakek-nenekku dulu. Lucunya, sampai saat ini belum ada lagi anak atau cucu kakek-nenekku itu yang menikah dengan orang Bugis atau Lampung. Menantu-menantunya pastilah orang dari suku lain. Ayahku saja orang jawa, dan dua abangku juga masing-masing menikah dengan orang betawi dan bengkulu.


Oh iya, tak disangka, zaman sekarang, adat kawin lari itu masih berlaku lhoooo...seperti di Lampung pedalaman, aku dengar dari temanku yang sedang KKN disana, anak gadis disana banyak yang harus hati-hati karena takut "diculik" sama sang bujang.


Di keluargaku sendiri, tempo hari juga masih mengalami satu lagi kejadian kawin lari. Pada saat abangku yang kedua akan menikah, Orangtuaku pun bertandang ke bengkulu untuk berkenalan, sebelum melamar resmi dilakukan. Rupanya adat bengkulu waktu itu (tahun 2000) masih kuat, dan ketua adat masih dominan ketimbang keluarga itu sendiri. Jadi, calon mertua abangku saat itu meminta kerjasama orangtuaku untuk melakukan adat "kawin lari".


"Penculikan" pun dilakukan----tentu saja sekali ini dengan damai. Cuma kami-kami ini kaget saja waktu tahu-tahu mereka pulang ke Jakarta membawa "oleh-oleh" gadis bengkulu. Calon ipar kami itu pun akhirnya menginap di kamarku selama 1-2 hari, sebelum akhirnya pulang kembali ke Bengkulu.

"Kawin lari niyeeee...."



(diambil dari arsip tulisanku tahun 2003 untuk gado-gado Femina, tapi ga dimuat, hehehe)

Friday, January 11, 2008

pindah ke apartemen sendiri

kemarin kita pindahan ke apartemen sendiri di Victoria Park...senengnya...apartemen satu kamar..masuk, ketemu dapur dan ruang tamu berdampingan kesamping, trus ada pintu lagi yang menghubungkan ke kamar dan kamar mandi. Cakep banget deh.

tapi secara belum dapet kerjaan, jadi deg2an juga. hehehe. rencana berangkat awal memang selain supaya atala adaptasi dulu, tapi juga lumayan iseng2 dapet kerja seadanya sampe dapet working permit bulan februari besok, tapi ternyata bulan januari adalah bulannya international student pada rajin kerja entah jadi cashier atau apalah...jadinya full book deh. hehehe, tapi mudah2an minggu depan dapet deh.

pertama kali dateng ke perth, yang bikin terpesona memang desain rumah/apartemennya. tau kan kalo kita nginep di villa atau motel2 murah? dulu kalau lagi nginep di puncak atau anyer, sempet kepikir, kenapa ya rumah beneran ga dibikin seperti villa, kan asyik tuh. eh
ternyata kesampaian. Mungkin nanti saking noraknya kayaknya gue bakal rekam pake video trus dimasukin ke multiply...tonton ya...hehehe. tapi sekarang belum bisa, soalnya handphone sudah penuh, tapi komputer belum ada untuk ditransfer biar handphonenya bisa dipake foto2 dan video lagi. nasibnya sama seperti microwave, lagi hunting barang
secondhand...hehehe.

hal kedua yang jadi perhatianku adalah tas-tas "go green" yang dijual bebas untuk menggantikan plastik kalo kita mau belanja ke supermarket, tas yang dulu aku lihat pertama kali diperbincangkan di oprah show. aku sekarang udah punya 2 nih. Global warming memang melanda dimana-mana ya. Kalau di jakarta, kita merasakan cuaca ga jelas, sebentar panas, tau2 hujan, banjir...eh tau2 panas lagi...ternyata disini juga sama. Sekarang lagi musim panas, sebelum aku berangkat, ibuku yg udah disini duluan heboh bilang disini 44 derajat, sampe ga bisa ngapa2in, tapi pas aku kesana, angin dingin menerpa, dan walaupun
emang panas banget..tapi sampe dirumah adem banget, karena rumahnya memang didesain tahan cuaca. Jadi aku pikir mungkin ibuku berlebihan, secara dia udah biasa rumahnya ber-AC dan sudah menopouse juga yg bikin badan lebih rentan...Tapi setelah beberapa hari, akhirnya aku ngerasain juga panas 42 derajat, rasanya lemes seperti orang puasa ga
sahur, tapi walaupun udah makan, minum kayak gimana juga ga selesai lemesnya..akhirnya cuma bisa tiduran sambil ditemenin kipas angin dan ngebayangin aduuh enaknya kalu rumah ada AC, hahaha. Enaknya, kalau jemur baju, satu jam juga udah kering, kekekeke. Kalau ponakan2, karena ga bisa diem loncat sana loncat sini, lari2 dan main ga keru2an, tau2 badannya panas karena dehidrasi alias kurang cairan. Jadi gantian aja tuh yang ngegeletak karena badan anget. ampun deh. Nah, udah 2 hari kemarin kok dingiiin ya? ternyata sekarang lagi 25 derajat. SEkedar perbandingan, di jakarta, suhunya sekitar 29-32
derajat.

Disini, global warming sepertinya sudah mulai ditangani dengan serius, aku buka rekening bank, pras buka rekening bank, semuanya ga pake application form yang menggunakan kertas, tapi langsung diketik sama customer servicenya sambil memperlihatkan paspor. waktu ngurus NPWP juga lsg dikasih komputer untuk ngetik sendiri, jadi ga buang2 kertas. Kalau di bank, ada tulisan untuk setoran dan penarikan sudah ga menggunakan kertas formulir lagi, tapi ga tau deh pake apaan ya...mungkin online juga ke komputer kali ya...?
*belum pernah sih* , jadi sepertinya pengurangan penggunaan kertas dan plastik udah langsung dipaktekkan.

Enaknya dateng bulan januari, aku banyak practice speaking sama ponakan yang udah mulai kaku ngomong bahasa indonesia, lidah sering kelibet2 nih. Enaknya lagi, bulan januari, bulannya orang2 indonesia yang udah selesai kuliah, pulang. jadi banyak barang2 yang
bisa diwariskan atau dibeli murah. Tempat yang aku tempatin sekarang kebetulan juga temennya abangku yang pulang 31 des kemarin. Dia meninggalkan pemanas air, panci, piring, heater, baju musim dingin, sampe sofa. Lumayan kan. Sayangnya, waktu perpisahan, aku naksir microwavenya ternyata udah dipesen orang lain, hehehe. Masih bagus
banget, dan dia kasih gratis pula lhooo...wuaduh... sekarang masih ada 2-3 orang lagi yang mau pulang, rencananya mau hunting barang lagi...kekekeke. satu lagi yang belum dapet, vacuum cleaner..soalnya rumahnya karpet semua. Saat ini ada mesin cuci gratisan juga yang mau dikasih ke kita, bingung juga mau ditaroh dimana...paling2 di kamar mandi yg udah sempit pula...jadi kemarin aku masih diskusi ke pras, mendingan nyuci sendiri apa ke mesin cuci sewa yang pake koin ya? soalnya mesin cucinya lumayan gede banget, jd kykna bisa muat baju seminggu deh...soalnya cuma bertiga, kalo pake mesin cuci, boros air
dan listrik ga ya? tapi ini masih dalam pembicaraan, belum ada keputusan..hihihihi. Disini barang2 banyak yang dibuang2 trus dipungut lagi terutama sama orang indo, hehehe...kemarin aja kita lihat ada troley bayi masih bagus ada ditempat sampah, aku sampe wanti2 sama pras nanti jangan jadi tukang pungut melulu ya, nanti rumah penuh lagi!
hahaha.udah dulu ya, maklum ngenet masih nebeng...si atala ribut minta
game pula....cu soomn

Sunday, January 06, 2008

adaptasi atala di perth

Buat atala, Perth adalah negeri antah berantah tempat dia tiba-tiba terlempar tanpa aba-aba. Bahasa baru, lingkungan baru, negara baru.

Pelajaran pertama yang didapat atala, tentu saja adalah mengenai Sibling Rivalry. Sebagai anak tunggal, atala ga pernah mengalami, dan dia lihat sendiri bagaimana abang Aslam, Kakak Syahira, dan Dede Syazia berinteraksi. Heboh deh pokoknya. Setiap detik ada perang, dan setiap detik pula ada yang harus dilerai.

Berada di rumah dengan 4 anak kecil, atala juga belajar sharing mainan, dan juga sharing mamanya, secara mamanya juga membantu BunGa Susi menyiapkan makan, menyuapi, memandikan, bahkan menggendong si kecil syafiq. Huaaa...atala ga rela deh!!! ga ada perkenalan pulaaaa

Yang tersulit mungkin adalah menjelaskan ke atala bahwa mainan disekitarnya itu bukan miliknya, jadi perlu juga ditegaskan apa yang dimaksud dengan "pinjam". Belum lagi kalo yang punya ga mau meminjamkan, dan juga mengenalkan konsep "mengembalikan" saat diminta. Hayo..bagaimana caranya? Apalagi anak kecil adalah masa-masanya egois dan sharing memang perlu dikenalkan. wuaduh. hasilnya: chaos. Terutama kalo abang suka iseng merebut mainan yang dipegang atala, karena cuma pengen denger atala bilang "pinjam ya bang.." ****HHHH...ABAAAANG****

Yang lucu adalah bagaimana atala belajar bahasa Inggris. Yang paling dia kuasai sekarang adalah "STOPPEED (STOP IT)" dan "MINEEE"

stoopped biasanya diomongkan para sepupu saat ingin menghentikan entah digodain, digangguin, dll.

Ya...mudah2an aja atala ga ngikutin omongan abang yang bentar2 ngomong "be queit" karena "shut up" sudah dilarang Ibunya

Tentu saja, bukan cuma atala yang terpengaruh, atala juga mempengaruhi yang lain. Misalnya atala yang bentar-bentar nangis, eala, kok ditiru sampe si abang juga ikut2an. Malu2in aja :-P

Syazia yang pertama kali ketemu saat dibantu turun dari mobil berseru seperti ini, "BINDA, I CAN DO IT BY MYSELF!!!" tau-tau kemarin minta dibukain baju karena ga bisa :-P , padahal atala sudah mulai mengibas2 tanganku ga mau dibukain seatbelt (terpengaruh syazia yang selalu pengen menunjukkan dia bisa mandiri supaya abang berhenti menggodanya BABY BABY BABY)

hehehehe.

12:59 am. Bobo aaaah

Wednesday, January 02, 2008

akhirnya online juga di Perth

akhirnya online juga di Perth...walaupun jam 2 pagi...kekekeke..mau attach foto, tapi masih gaptek pake laptopnya faza...ya sudahlah...

Berangkat hari jumat, 28 Des 2007 jam 10.05, tidak diawali dengan baik. Sehari sebelumnya, atala masuk angin, jadinya muntah dan ga mau makan...alhasil tadi pagi, atala juga masih ga enak badan..minum susu juga dimuntahin...hiks deh. Sepanjang perjalanan di pesawat, atala tidur terus. Hampir ga makan dan minum apa-apa. Eh iya, di pesawat, 1 jam pertama atala nangis terus setiap inget ayahnya, sambil tersedu2 memanggil ayahnya. Aneh juga ya. Padahal pergi berdua emaknya kan sudah biasa, tapi kayaknya atala tau kalo saat itu kita mau pergi jauh, dan ga akan ketemu ayahnya selama beberapa waktu. Selama di pesawat, atala berulang kali bertanya (sebelum tidur dan sesudah tidur), "mana pesawatnya?" karena dia sudah diceritain mau naik pesawat. Walaupun sudah dijelaskan saat ini kita sedang berada dipesawat, sambil nunjuk awan, sayap yang terlihat (atala juga menunjuk baling2nya sebagai tembakan sambil bilang "door door"), tapi tetap saja pertanyaan "mana pesawatnya?" diulang lagi :-)

sampai dibandara, sempat ada insiden, karena ternyata jaket atala ada buah rambutan, oleh2 dari ciledug yang lupa untuk dikeluarkan. Rambutannya sudah lama, jadi aku sendiri ga inget, dan karena jaketnya disimpan di tas atala, aku sempet juga dicurigai "Menyelundupkan" rambutan, hehehe..untung berakhir dengan cukup baik.

Keluar dari "restricted area", atala langsung menanyakan akek, "mana mobil akek mama? akek mana?" eala...si mama aku ceritain langsung meneteskan airmata, katanya sedih juga inget atala dipisahkan dari akek (wah, cerita tentang akek harus ada chapter sendiri ini untuk kenangan atala).

Ga lama, faza pun menjemput, dan walaupun waktu setempat menunjukkan pukul 5.30 pm, tapi matahari terasa seperti jam 2. Yap, inilah summernya western australia. Kata faza, disini magrib jam 20.30, tapi subuh sama dengan jakarta, jam 4-an gitu deh. Gubbraks. Tapi setelah beberapa hari dirumah faza, aku ga begitu merasakan apa yang dikeluhkan mama, oke lha diluar puanas banget, tapi dirmh ga gerah2 banget deh. Kipas angin lumayan banget membantu, walaupun lebih oke lagi sih kalo pake AC atau cooler gitu, hehehehe. Buat mama yang terbiasa rumah ber-AC cukup bermasalah, apalagi faktor usia ya...tapi buatku yang sudah pernah tinggal di ciledug (rumah mertua), wah, ini sih belum ada apa-apanya. ciledug tuh bener2 panas banggeeet!! eh, tapi ternyata baru ngeh, kalo desain rumahnya memang tahan cuaca. Ya iyalah...wajib. Disini walaupun ga ada salju, kalo winter bisa sampe 0 derajat...wuaduh..gimana ekky yang katanya summer aja masih hitungan derajat suhunya? hehehe.

Belum sempet kemana-mana, paling2 ke shopping mal dan sempet ke taman juga (ada fotonya yang ini). Pengennya norak ya pertama kali ke luar negeri...tapi udara panas, jadi males juga kemana-mana, hehehe. Kalau jalan2 pake mobil, terasa lengang dan sepi. Memang Perth kan very quiet bo'. Dari hiruk pikuk jakarta ke Perth...hhmm...kesannya? Hot and Quiet..hihihihi

Anxiety separation atala muncul lagi disini....tempat baru dan suasana baru, cuma emaknya yang dia kenal..wuaduh, ga bisa ilang dikit langsung dicariin...tapi nafsu makan atala berangsur2 pulih...sekarang udah mendingan deh...tapi atala keliatan banget deh masih polos dan babynya dibanding sepupu2nya..hehehe.

Ngomong-ngomong soal keponakan..

Pertama kali sampe dirumah faza..yang pertama kali dilihat tentu saja syafiq, keponakan yang ga pernah aku lihat sebelumnya. 6 bulan lagi demen berdiri dan mencoba berjalan..padahal duduk aja belum bisa tegak. Mukanya mirip banget sama abang dan syazia waktu bayi...kayaknya cetakannya emang sama deh, hehehe. kalau ngomong suaranya terdengar mirip orang bilang hai... "heiii...heiiii..." trus kalo nangis pipinya bisa merah banget. hah. udah kayak orang bule aja.

Abis itu, ada syazia yang ga mau dianggap baby, dia sudah besar. sesuai ingatanku, she's very adorable and loveable. Ciuman dan pelukanku lsg diterima dengan senang hati. Tapi dia galak banget deh. Atala pernah kena bentak, langsung nangis...hahahaha, udah mana atala sensitif banget pula. Syazia di summer ini hobinya mandi. Pagi, siang, sore, selalu minta mandi melulu... sampe2 sama emaknya dipakein pampers biar pipis di diaper aja..soalnya kalo pipis di kamar mandi, pasti langsung main air!! hahahaha. tapi sejak ada atala, syazia ga pernah pake diaper lagi...tau2 dia udah dikamar mandi trus teriak, "Bindaaaaa" tau2 udah telanjang aja dia, siap dimandiin. kadang-kadang terdengar suaranya yang protes kalo dia belum mandi. setidaknya belum sama ayah atau belum sama binda...hihihihi. Dia paling anti dianggap bayi, tapi abangnya suka banget godain, lalu dia teriak2 protes, "i'm not a baby!!" trus ga mau deh dibantuin seperti turun dari mobil, pasang dan buka seat belt sendiri, dll. Tapi syazia nih tukang ngadu banget...hehehehe, lucu. Satu lagi, kalo liat orang mau pergi, syazia langsung heboh banget pengen ikut, sibuk ganti baju, pake sepatu, trus teriak deh "mana jilbab dedeeee". Pernah, karena dia ga diajak, dia nangis sekencang2nya, trus atala nanya gini, "mama, dede kenapa nangis? inek galak ya?" hihihihi.

Syahira masih cantik dan smart seperti yang kuingat. Tapi aku masih suka salah manggil dede, padahal dia sekarang sudah jadi kakak, hahahaha. dulu kan syahira panggilannya dede...senengnya manjat antara gang pintu...halla...kemarin kejadian deh, si atala ketiban juga. Ampun. kayaknya syahira itu cari perhatian juga. Kata ayahnya paling susah disuruh mandi dan solat, heheehe.bahkan minum susu juga susah katanya. beberapa kali akhirnya syahira digendong ke kamar mandi dan dimandiin sama aku atau inek, dia ga berontak tuh. Mungkin emang syahira cuma ingin dibujuk, i dunno. kadang-kadang aku melihat syahira jadi inget ada yang bilang kalo anak no.2 itu biasanya yang paling sulit, atau mungkin sebenarnya...yang paling mencari jalan supaya diperhatikan..hehehe. just my thought anyway.

Abang yang agak beda dari ingatanku. Dulu bayanganku dia itu sweet boy banget. Tapi sekarang abang sudah bisa membantah, dan ga berhenti2 ngomong in english...udah gitu kebanyakan omongannya nasty things...senengnya godain adik2nya. Permasalahannya adik2nya ga terima dan membalas dengan fisik, entah pukul, tendang, cubit...alhasil mereka bisa berantem deh. Abang bisa bales dengan tenaga berlipat ganda kan!! Pernah juga, pas lagi heboh tendang2an, aku langsung melerai dengan pake guling, "udah! udah!" kataku. Eh..tau2 atala deketin aku dengan muka mau nangis sambil bilang, "mama..jangan galak2"

Kadang-kadang abang nunjukkin juga otoritasnya sebagai si sulung dengan melarang-larang seenaknya..bikin adik2nya tambah bete. huuuh..jadi inget bang ekky waktu kecil dulu. nyebelin!! teasingnya abang yang aku inget seperti ini, "your barbie poo poo in your head" atau "dede, you're not allow to ....." ampun deh. Abang juga senengnya bicara dengan nada tinggi, seperti yelling dan demanding gitu...aku ga ngerti apa emang gaya bicara orang australia seperti itu tapi terasa kurang sopan bagiku, atau emang abangnya emang ga sopan. hehehehe.

Tapi abang baik banget sama atala dan syafiq, dan buat atala abang itu idolanya banget, kemana-mana dikintilin terus, ditanyain terus, dicariin terus. Sekarang abang lagi panas, atala nangis deh dibilang ga boleh deket-deket abang.

wuaduh, udah jam 2.37 am...aku tidur dulu deh...bentar lagi subuh.....

(bersambung)

Thursday, December 06, 2007

Australia, here I come!

Akhirnya, urusan administrasi beres juga. Tinggal nunggu visa keluar, dan kalo lancar, tanggal 29 Desember besok terbang deh kesana bersama atala. Ada beberapa moment yang perlu dicatat:

IJASAH
lulus tahun 2002, ijasah masih belum diurus juga. Gubrak dah. Ngurusnya lumayan heboh deh, secara udah 5 tahun yang lalu....

IELTS

persiapan IELTS juga lumayan heboh. Cuma sempet ikutan workshopnya selama 5 hari, pulang kerja ke IDP sampe rumah jam 9-an malem, tiap hari begitu. CAPEK! akhirnya hari jumatnya memutuskan ga dateng (dan ga masuk kerja), supaya sabtu bisa SEGER menghadapi ujian. Waktu lagi ikutan workshopnya, kepala senut-senut, dan untuk pertama kalinya baru terpikir...wuauduh, gue akan belajar lagi nih...akan menghadapi kuliah lagi...halllaaa...kemana ajaaaa....

KARTU KELUARGA

paspor atala harus punya kartu keluarga...lha, ayah dan mamanya kan KTPnya masih beda alamat...ngurus KTP baru ternyata 6 bulan booO! akhirnya bikin kartu keluarga yang isinya cuma mama dan atala aja deh...berasa single mom! Hiks!

PASPOR

waktu ngurus paspor atala, atala rewel bangget! Acara foto aja sampe makan waktu 15-20 menit, karena atala ogah difoto sendiri dan pengennya digendong/berdua emaknya. Waktu ngantri wawancara, ngantrinya bikin bosen kali yaa! berkali-kali ngajak pulang, hehehe. Akhirnya kita menggambar bareng deh... untungnya ga lama-lama banget.. sekitar 3 jam deh udah kelar!

MEDICAL CHECK-UP

acara medical check up ini seru juga. Gara-gara ngejar apartemen murah yang akan ditinggal penghuninya akhir tahun ini, ceritanya kita ini wajib udah sampe sono untuk booking tanggal 24 desember, eeh, ternyata kalo mau tanggal segitu, ya visa harus diurus dari sekarang, otomatis kedubag-kedubug deh urusannya. Dari pembayaran, sampe medical check-upnya, heboh! soalnya, paspornya Ayah juga belum jadi. (walaupun belum jelas kapan ayah mau nyusul, tapi visanya dibikin bareng2 karena atala mau kubawa--jadi bikin visa family) Waktu paspor beres, akhirnya ngejar medical check-up sore, dan satu-satunya yang buka hanya di Batu Ceper. Eiya, foto dulu di foto studio, secara ga punya pas poto...Ayah mah pede aja ke tangerang naek motor bertigaan ma atala...rupanya oh rupanya..maksudnya batu ceper di Gunung Sahari!! wakakakakakak, udah nyampe Tugu selamat datang kota tangerang lhoooo! bayangkan! Atala sampe pegelnya bukan main...

Nah disini nih, momen kebangganku...soalnya atala ga ngeluh sama sekali. Bukan cuma ga rewel, bahkan waktu medical check-up, atala kooperatif banget, dokternya aja sampe terkaget2 lho!! rupanya...wah, aku baru inget...atala itu ngikutin majalah bee magazine junior yang edisi "tidak takut" alias adegan si bening pergi ke dokter. Bahkan dialog2nya juga ditiru abis lhoooo. Mulai dari menjulurkan lidah, membuka baju untuk diperiksa dengan stetoskop (atala ngomong gini, "ih..dingin..dingin.."), eeh..terakhir pas udah keluar dari ruangan, atala bilang gini, "ga sakit kok, yah".. hehehe..beneran ngikutin si bening ngomong!!

apalagi ya.....