cerpenku yang ga dimuat di annida, hehehe
“Jilbab itu tidak wajib”
Entah kenapa, terduduk di masjidil haram, kata-kata itu terngiang lagi ditelinga Ri. Saat ini pukul 7 pagi waktu Mekkah. Tris pasti sudah tertidur nyenyak dikamar hotel setelah tawaf dan sa’i dini hari tadi. Ternyata memang cukup melelahkan. Tapi bagi Ri, duduk ditangga ini merupakan kenikmatan sendiri. Memandangi putaran-putaran manusia mengelilingi ka’bah yang tak pernah berhenti. Ri tersenyum kecil. Pikirannya melayang-layang ke tanah air.
“Jilbab itu tidak wajib”
Tergiang lagi. Sekali ini Ri nyaris tergelak mengingat ekspresi teman-temannya mendengar komentar Mbak Nia. Mereka semua nyaris terjungkal dari kursinya masing-masing. Siapa yang tidak kaget, seorang aktivis Rohis tiba-tiba berkata begitu ?
“Lho, betul kan ?”dengan mimik lucu, Mbak Nia berkata lagi. “Coba deh, perhatikan lagi…memangnya ada pernyataan yang jelas bahwa jilbab itu wajib ?”
“Wah, gak beres ini”Ri mendengar teman-teman mulai berkomentar. Kalau ini lelucon, Mbak Nia bisa diamukin massa nih.
“betul kok !”suara Mbak Nia masih terdengar mantap. “Yang wajib itu menutup aurat, betul kan ?”
Haaaaaaaaaah….
Massa akhirnya ber-koar kompak. Aduh, mbak Nia bikin deg-degan aja deh!
“Duh, kirain betulan Mbak Nia, udah siap-siap buka jilbab nih…”Ri berkata sambil mengedipkan matanya. Tangannya mengenggam ujung jilbab, siap untuk dibuka.
“Betul kan ? kalau di kutub utara ada orang eskimo masuk Islam, aurat mereka kan sudah tertutup rapat, ngapain pakai jilbab ?”katanya lagi.
Suasana langsung heboh. Ide dikutub utara ada orang Islam menggairahkan mereka semua.
“Asyik banget. Gak perlu ngebongkar celengan, cari pinjaman sana-sini buat beli baju muslim…”kata Nani serius. Dia memang mempunyai kesulitan keuangan.
“Gak perlu berubah penampilan, jadi gak usah mengalami masa-masa gak punya teman…”Rika yang tomboy unjuk pendapat.
“Gak perlu capek-capek menjelaskan ke semua orang, kenapa kamu pake jilbab !”Kata Novi.
“Yang pasti….”Tris nyengir lebar. Duh, nih anak pasti mau kasih komentar yang ngaco deh.
“Gak perlu ngerasain tertusuk peniti melulu….”
Ri tersenyum lebar. Ingatannya kembali ke masa transisi mereka, ketika jemari Tris penuh dengan tensoplast.
“berdarah-darah terus nih, kena peniti”katanya dihari ketiganya pakai jilbab. Dengan wajah memelas, Ia menunjukkan 3 jari tangannya yang kena “korban”.
Bagi Tris, darah adalah momok yang mengerikan. Makanya dia itu anti sekali sama film-film action. Walaupun sudah diberitahu berkali-kali kalau itu cuma darah bohongan, tapi tetap saja katanya, dia tak bisa menghilangkan rasa lemasnya melihat darah.
“Sebelum kamu gape memakai jilbab, kamu keburu harus ditransfusi darah deh Tris..”canda Meita. Waktu itu ramai sekali. Semua jadi ikut ambil bagian untuk menggoda Tris.
Tapi tampaknya Tris betul-betul takut dengan komentar teman sebangkunya itu. Seingat Ri, setelah itu jemari Tris tak pernah lagi terluka. Rupanya dia terus giat berlatih supaya tidak ceroboh lagi. Hahaha, polos sekali Tris itu. Ri menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tapi kepolosan Tris ternyata mengantarkannya dan Ri duduk di masjid ini. Entah berapa banyak Muslim yang merindukan untuk melihat ka’bah, tapi sekali ini Ri dan Tris yang berkesempatan jadi tamu Allah di kota ini. Betul-betul tidak disangka-sangka.
Ri masih terduduk ditangga masjidil haram ini. Masih memandangi lingkaran manusia di ka’bah itu. Pertama kali dalam hidupnya ia bertemu dengan manusia-manusia dari berbagai macam ras dan bahasa. Mereka semua bertemu disini karena satu persamaan, karena sama-sama muslim.
Manusia-manusia itu pulalah yang mengingatkan Ri pada pernyataan Mbak Nia tempo dulu. Padahal itu sudah bertahun-tahun berlalu.
Ri baru menyadari kalau masing-masing manusia menutup auratnya berdasarkan budayanya masing-masing. Ri takjub sekali. Contohnya, Ia baru tahu, kalau muslimah arab menggunakan jilbab tanpa peniti sama sekali.
waktu itu Tris terlonjak-lonjak kaget,
“Curang”katanya gemas. “kalau begitu dari dulu aku belajar tanpa menggunakan peniti…”
Ri dan Tris sama-sama menahan nafas saat memperhatikan seorang perempuan arab membetulkan kain hitamnya yang panjang itu. Dengan lihai, kainnya melingkar, membebat, disampirkan ke kiri..kanan..dan kemudian…kabuuum…dalam sekejap jadilah sepotong jilbab terhampar tanpa peniti. Tinggallah Ri dan Tris terbengong-bengong dan berdecak kagum.
“Ah…tidak jadi..”kata Tris. Wajahnya masih melongo kaget.
“Bisa habis waktuku belajar memakainya seperti itu”
Ri tergelak membayangkan Tris bersusah payah melilitkan kain panjang itu dilehernya. Lucu sekali ! tapi Ri langsung terdiam waktu perempuan tadi melirik mereka dengan wajah masam. Duh ! Tris buru-buru menarik Ri pergi.
Lalu ada perempuan mesir dengan jilbabnya yang bercorak, datang dengan mendekap bayinya yang tampan sekali. Tris hampir saja bertepuk tangan ketika ia memutuskan mengambil shaf disebelah Tris. Perempuan itu tersenyum ramah sambil mengoceh dalam bahasa arab.
“Aku menyesal sekali tak bisa bahasa arab…”dengan kecewa Tris berbisik pada Ri.
Tapi itu tidak mengurangi semangatnya. Lalu mereka pun terlibat percakapan yang entah kenapa, rasanya nyambung-nyambung saja. Buktinya Tris akhirnya berhasil menggendong bayi itu sebelum adzan subuh akhirnya berkumandang, dan ia pun berkata,
“Namanya Ahmad, usianya 6 bulan”katanya sambil nyengir lebar. “Mereka datang dari Mesir. Lihat, lucu banget ya ?”
Ri cukup terbengong saja. Sepertinya ditempat seperti ini, tidak ada yang menghalangi mereka semua untuk menjalin ukhuwah. Bahkan bahasa pun juga bukan penghalang.
Ini disadari Ri, karena jam 3 subuh tadi, Ri pun berkenalan dengan seorang perempuan Canada. Mereka duduk berdampingan, bersama dengan putrinya yang berusia 7 tahun, Sarah. Sebenarnya, sarahlah yang pertama kali membuka percakapan. Ia tak henti-hentinya melirik Ri dan tersenyum manis. Menggoda Ri untuk menyapanya. Lalu percakapan antar dua warga asing pun mengalir begitu saja. Rupanya perempuan itu dan suaminya hampir selalu menyempatkan diri mampir berumroh setiap kali mengunjungi keluarganya di London. Mereka menghabiskan waktu dua kali lipat dari waktu yang digunakan Ri dan Tris untuk datang ke Mekkah ini. Bukan main.
Jilbab yang mereka pakai sama seperti jilbab-jilbab yang dipakai orang-orang Bosnia dan Eropa yang biasa Ri lihat di tivi. Sederhana dan praktis sekali. pada saat itulah, Tris menarik Ri untuk mengambil wudhu dan menempati shaf. Waktu solat subuh hampir tiba. Ri tidak sempat menanyakan alamat e-mail perempuan itu.
“Jangan disitu…”Tris menarik tangan Ri yang mengambil shaf di tempat-tempat warna putih berkibaran. Warna khas mukena Warga Indonesia.
“Itu tempat orang-orang Melayu berkumpul”kata Ri menjelaskan. Tapi Tris terus menarik tangannya.
“Gak seru kalau disitu…”kata Tris.
“Disini saja”
Tris langsung terduduk. Dan Ri jadi faham kenapa. Disekeliling mereka begitu banyak anak-anak. Tempat favorit Tris. Padahal berisik sekali. kepolosan anak-anak itu membuat mereka jadi tidak bisa diam. Berlari kesana kemari. Bermain, seakan-akan ini taman bermain. Tapi tris tersenyum senang. Anak-anak arab itu memang tampan-tampan dan cantik-cantik sekali. Juga begitu menggemaskan. Tris jadi sibuk tebar-tebar pesona, supaya anak-anak itu memperhatikannya. Dan disinilah mereka bertemu perempuan mesir tadi.
Warna-warni jilbab. Ri tersenyum. Tiba-tiba di kota ini, perbedaan cara pemakaian jilbab tidak bisa lagi digunakan untuk menilai kadar iman seseorang. Ini hanyalah perbedaan apresiasi menutup aurat. Dan saat ini perbedaan ini terasa indah sekali bagi Ri. Begitu kaya budaya.
Bagaimanapun, pakaian tetaplah pakaian dengan fungsinya. Lalu kenapa manusia selalu sibuk menilai manusia yang lainnya dengan pakaian yang mereka pakai ?
“Ri”
Suara Tris.
Ri menoleh. “Hei, sudah bangun ?”
“Ngapain sih kamu disini ?”
Tris mengambil tempat disebelahnya. Matanya masih terlihat ngantuk.
“Aku lagi merhatiin mereka-mereka yang lagi tawaf”
Ri menunjuk ke arah ka’bah. “Putaran itu tak pernah berhenti, kecuali waktu solat, kamu perhatiin gak ? jam berapa pun pada saat apapun”
Setengah mengantuk Tris memandang ke ka’bah. “Trus kenapa ?”
“Seperti…..”Ri tergagap mencari kata-kata yang tepat untuk dikatakan.
“Pusaran langit….”Tris berkata.
“Pusaran berisikan doa-doa itu terus berputar sampai ke langit…Menembus galaksi sehingga doa pun menggema sampai ke seluruh jagat raya…”
Sesaat Ri bengong.
“iya…”nadanya terdengar kagum.
“memang itu yang kurasakan…”
Ri memandang ke arah ka’bah lebih fokus lagi. Tiba-tiba ia seperti mendengar do’a-do’a menggema keseluruh penjuru. Seluruh alam bertasbih melantunkan nama-Nya. Tubuh Ri tiba-tiba bergetar. Takjub.
“Hebat kamu, Tris…”kata Ri.
Tris menguap. “Hebat apanya ? itu kan yang dikatakan sama Pak Roy waktu kita manasik umroh !”
Gedubrak ! Ri merosot dari tangga. Duh ! kirain itu kata-kata Tris sendiri ! dengan bersungut-sungut, Ri mengusap-usap badannya yang terantuk tangga.
“Yang keren itu suasananya”kata Tris tanpa mempedulikan Ri. Nada suaranya terdengar lebih segar.
“hmm ?”Ri mengernyitkan dahi. Ia begitu fokus pada ka’bah jadi lupa sekelilingnya.
“Ri perhatiin gak, di masjidil haram, laki-laki dan perempuan masuk dari pintu yang sama. Mereka bisa bertemu, hilir mudik bahkan bertabrakan disini.”kata Tris lagi.
Heh ? Ri memandang sekeliling. Betul juga. Masjid dimana pun pasti memisahkan tempat solat laki-laki dan perempuan. Tapi justru di masjid ini tidak. Kenapa ia tidak perhatikan sebelumnya ya ?
“Akibatnya, jadi seperti itu…”Tris menunjuk ke seberang tangga mereka. Masjid ini berbentuk segi empat, mengelilingi ka’bah. Diseberang Ri juga ada tangga-tangga, yang juga bisa dipakai untuk duduk memandang ka’bah. Ri baru menyadari, selama ini, bukan hanya dia yang duduk diam disini.
Sekali ini, yang ditunjuk Tris adalah sepasang laki-laki dan perempuan sedang terduduk diseberang sana. Dipangkuan mereka masing-masing ada satu anak laki-laki. Disebelah perempuan itu terdapat keranjang bayi. Tak ada yang mereka lakukan. Hanya diam memandang ka’bah. Seperti Ri.
“Lalu itu…”
Tris menunjuk ke arah ka’bah. Sepasang suami istri bergandengan tangan tengah melakukan tawaf.
Ri menghela nafas. Lalu ia melirik Tris yang nyengir lebar sambil bertopang dagu. Sinar matanya tampak berbinar-binar.
“Romantis, kan ?”katanya.
Lucu. Ri tersenyum. Tapi memang seperti itulah Tris. Kalau ada orang yang menilai masjidil haram adalah tempat yang romantis, itu pastilah Tris orangnya.
Tapi tiba-tiba raut wajah Tris berubah. “Eeeh…itu…”Suaranya nyaris berteriak sambil menunjuk ke ka’bah.
“Apa, Tris ?”
“Wah…gak sopan…perempuan itu mencopet gelang anak kecil itu !”Tris terlonjak-lonjak gemas.
Ri memandang seorang anak kecil yang sedang digandeng Ibunya mengelilingi ka’bah. Tapi ia tak melihat apa-apa. Seorang perempuan berjilbab hitam dan bercadar yang ditunjuk Tris berjalan begitu saja melewati mereka tanpa rasa bersalah.
“Waah…gimana sih ? kan mereka sekeluarga lagi umroh..”nada suara Tris terdengar kecewa. Matanya masih menelusuri perempuan tadi sampai pupus dari pandangan.
Manusia, dimanapun tetap saja manusia. Walaupun ditempat ibadah seperti ini. Tris terduduk lemas. Ri merangkul Tris yang tampak kecewa perspektifnya yang indah tentang masjidil haram tiba-tiba tercoreng dalam sekejap.
“Kamu gimana sih, tadi juga Pak Tanto dan Sigit kehilangan sendal jepit mereka. Kenapa sampai shock begini ?”Ri mencoba menghibur dengan membicarakan beberapa orang dalam rombongan mereka.
Tris mencibir. “tapi ini kan didepan ka’bah”
“Apa bedanya ? kalau nyopet ya nyopet saja !”kata Ri.
“Riana dan Tristin ya ?”
Suara Pak Roy. Tris dan Ri menoleh kebelakang.
“Aduh, anak gadis jangan duduk disini sembarangan. Berbahaya !”Pak Roy menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya berkecak pinggang.
Tris dan Ri berdiri sambil nyengir lebar. “kami cuma memandangi ka’bah, Pak” mereka berkata kompak.
“Bapak kan sudah pesan, anak gadis harus ditemani dengan muhrimnya !”
Tris dan Ri saling pandang.
“Ayo, kembali ke hotel, sarapan sudah sejak tadi. Bapak dari tadi bingung kalian ada dimana. Gak bilang-bilang lagi !”Mata Pak Roy membulat sebal.
Tris dan Ri tidak berkata apa-apa lagi. Bergandengan tangan, mereka berjalan mengekor Pak Roy yang berjalan didepan.
“Tris…”
“hhmm…?”
“bilang yang jujur ya…”
“apa ?”
“Dulu, apa alasanmu pakai jilbab ?”tanya Ri.
Dahi Tris mengernyit. “karena wajib kan, kok pakai ditanya lagi sih ?”
“cuma itu ?”
“memangnya Ri dulu pakai jilbabnya kenapa ?”Tris balik bertanya.
Ri tak menjawab.
Kalau dipikir-pikir, sepertinya tak banyak orang yang memutuskan pakai jilbab dengan alasan yang betul-betul tulus seperti Tris. Karena menutup aurat itu wajib.
Kalau Ri mau jujur, hanya alasan seperti itu saja, takkan membuat seorang Ri memutuskan untuk menutup auratnya. Alasan sederhana seperti itu tidak akan cukup bagi Ri. Ia membutuhkan berbagai alasan yang membuatnya cukup masuk akal untuk memakai jilbab. Keputusan yang berat!
“Ri….”Tris menoleh ke arahnya sambil tersenyum penuh arti. Lalu Ia berbisik,
“Kapan-kapan kita kesini lagi yuk, berdua lagi !”
Ri melongo. Sepertinya Tris sudah lupa kalau perjalanan saat ini betul-betul menguras uang mereka. Begitu banyak biaya, dan belum lagi waktu luang yang mungkin takkan mudah mereka dapatkan lagi. Tapi sinar mata Tris tampak begitu bersemangat. Suaranya juga penuh optimisme.
Ri tersenyum kecil, “Oke deh…”
(dibuat untuk mengenang pengalaman umroh 1999. Thanks buat bang ekky yang pertama kali bilang romantisnya Masjidil haram, hehehe)


Buat atala, Perth adalah negeri antah berantah tempat dia tiba-tiba terlempar tanpa aba-aba. Bahasa baru, lingkungan baru, negara baru.
ga ada perkenalan pulaaaa


