Friday, March 16, 2007

BERTEPUK TANGAN DALAM PERTEMANAN

Dear All, numpang curhat neeh...sorry ya kalo panjang....tulisan yg di
blog ga usah dibaca jg gpp kalo kepanjangan....

Ada kejadian di kantor, dimana kami cukup dekat (atau aku merasanya
begitu), dan tiba-tiba aku mendapat surat undangan pernikahannya diatas
mejaku. Shocklah.

Soalnya, rumor pernikahannya sebenarnya sudah kudengar, tapi aku
pikir, pastilah aku dikabarin. Kami memang tidak pernah sharing soal
rahasia, tapi aku merasa kami cukup dekat untuk sekedar hanya dikabarin aja.

Yang paling bikin shock, adalah suatu sore ketika aku nebeng temen
kantor pulang ke rawamangun, trus dia nanya kebenaran rumor itu, katanya
gini, "wiet, tanggal 4 besok ya si anu menikah?"

Aku kaget, trus ngomong gini, "ah, masa sih pak? aku ga tau apa-apa
tuh"

"wah, gimana sih...masa kamu yang teman dekatnya ga tau...kan waktu
lamaran pak suwardi (yang biasa ngisi pengajian) diminta ikut dateng
lho, trus udah ke biro umum mau pinjam mobil kantor pas nikahannya"

"oh ya? aku ga tau tuh pak"kataku sambil cengengesan. "besok deh aku
tanyain"

besok pagi, kami ketemu di lobby, dan aku masih bertanya sambil
tertawa, "woi..mau nikah ya?"

dia tertawa dan berkata, "hahahaha, gosip aja tuh"

lalu, siang, sekitar jam 10 pagi, ada sepucuk surat undangan
dimejaku. Hmm. Wajar ga ya aku marah? aku sih sebenarnya ga minta dia untuk
cerita-cerita apapunlah. tapi, apa aku ga bisa dapet pemberitahuan pribadi
ya? entah dia ngomong sendiri sambil memegang undangan...atau apa kek
gitu. Oh my god. Apa aku berlebihan kalo merasa patah hati karena
merasa ga dianggap? atau aku aja yg kegeeran kali ya? entahlah. Mungkin
akunya aja kegeeran merasa kalo kami ini dekat.

ini adalah tulisanku di blog:

BERTEPUK TANGAN DALAM PERTEMANAN

Bertepuk sebelah tangan, artinya perasaan yang tidak
berbalas..maksudnya, apa yang kita rasakan, ternyata tidak dirasakan sama si orang
tersebut. Biasanya, ini adalah permainan orang-orang yang masih mencari
pasangan hidupnya.

Contohnya saja, mahasiswa UAI yang sehari-hari membantuku di
perpustakaan, hampir setiap hari ada aja temennya yang mampir untuk sekedar
"curhat" masalah romans. Hahaha, jadi inget masa muda (hallaaa).
Permasalahan-permasalahan cinta seperti... "si dia suka juga ga ya sama gue?"
atau "sebenarnya dia itu gimana sih" kerap terdengar. beberapa waktu
lalu, malahan kasus bertepuk sebelah tangan yang paling terparah adalah
tau-tau, dia mendengar kalau sang pacar (karena dia merasa belum
diputusin) ternyata akan menikah minggu depan. Ya ampun. Rasanya seperti langit
mau runtuh saja kali yeee....

Tapi Sebenarnya, permasalahan bertepuk sebelah tangan, juga bukan
permainan orang yang sedang jatuh cinta. Bertepuk sebelah tangan, juga
bisa terjadi dalam pertemanan, dan --menurutku-- bisa menjadi lebih rumit
dari kisah cinta antara dua sejoli. Dan inilah yang ingin aku bahas
saat ini.

Bertepuk sebelah tangan yang paling parah adalah ketika kita
menceritakan sebuah rahasia pada seorang teman, dan ternyata dia menyebarkannya
kemana-mana...atau justru dia menggunakan untuk hal-hal yang menusuk
dan menyakitkan hati. Istilah kerennya adalah "stab in the back" tapi
sayangnya, bukan ini juga yang ingin aku bahas saat ini.

Bertepuk sebelah tangan yang ingin aku bahas adalah masalah kedekatan
hati dengan seorang teman. saat kita merasa bahwa dia itu istimewa
diantara teman yang lain, dan ternyata dia tidak merasakan hal yang sama.
Apa kata-kataku itu masuk diakal?

contoh yang sederhana adalah seperti ini, misalnya kita merasa dekat
sekali dengan seseorang, dan menganggap bahwa dia itu istimewa, hingga
meskipun bertahun-tahun kita tidak bertemu, kita tetap menganggapnya
teman baik. Tiba-tiba, suatu hari kita bertemu, dan dia keliatan kaku dan
menyapa kita seakan-akan kita ini orang asing. Kecewa. sudah pasti.
Kedekatan kami selama ini ternyata baginya sudah terurai oleh waktu,
padahal bagiku tidak. Tentunya ini contoh sederhana, karena saat masa
kedekatan dulu, mungkin kita dan teman kita itu benar-benar dekat, dalam
artian sering sharing tentang apapun atau sering jalan bareng, hang out
entah kemana.

Lalu bagaimana dengan kedekatan hati dengan seseorang yang kita tidak
sering bersama atau tidak sering sharing?

seorang sahabat di masa kuliah dulu pernah mengajarkan padaku, bahwa
pertemanan juga ada tingkatannya. artinya, menjadi seorang teman atau
sahabat dengan orang lain, tidak menjadikan kita wajib sharing segalanya
pada orang itu, dan orang itu pun tidak wajib sharing apapun ke kita.
Jadi dalam pertemanan, tidak perlu "ekstrim" Share everything or not.
Kedekatan tidak perlu digambarkan seperti itu. Jadi, bisa saja kita punya
1-3 orang sahabat tempat curhat segalanya, punya 5-8 sahabat untuk
share beberapa poin, punya sekitar 50-an teman dekat, dan ratusan teman
biasa.

Terus terang, waktu mendengar itu, aku benar-benar terkejut. Tadinya
kupikir, jika seseorang tidak membagi rahasianya padaku, berarti aku
bukan temannya, atau aku merasa bahwa aku wajib menyampaikan rahasiaku,
untuk mendapatkan seorang teman, tapi ternyata tidak perlu begitu. Dan,
ajaran sahabatku itu, membuatku menjadi lebih rilex dalam berteman.
Gara-gara itu pula, aku jadi punya banyak teman (terus terang, aku baru
bisa berteman setelah kuliah jadinya, gara-gara itu :-p)

Tapi tentu saja, bertepuk sebelah tangan dalam pertemanan, akhirnya
bermula disini.
Karena terkadang, kita juga tidak bisa memilih kepada siapa kita
merasa dekat dihati, dan kita juga tidak bisa memaksa orang tersebut
merasakan kedekatan hati yang sama, meskipun ada beberapa momen yang
menjadikan kita dekat, dan orang luar pun melihat bahwa kita cukup dekat.

Hal yang menandai bertepuk sebelah tangan sebenarnya cukup sederhana,
lebih ke permasalahan pemberitahuan kabar terbaru personal. Karena
menjadi teman dekat itu tidak perlu sharing apapun sampai ke detil, tapi
bukan berarti kita tidak bisa sekedar melakukan pemberitahuan secara
pribadi kan???

Misalnya, si teman dekat itu tiba-tiba menikah, pindah rumah,
melahirkan, orangtuanya meninggal, dan kita mengetahuinya dari orang lain,
artinya si teman itu tidak merasa perlu memberi kabar kita secara pribadi.
Atau bisa juga dibalik, artinya si teman dekat tersebut tidak merasa
perlu meluangkan waktu untuk hadir atau sekedar mengirim email/sms di
saat istimewa kita, seperti pernikahan, kelahiran, kematian, dan
sebagainya.

Terkadang, kita masih "pede" dan "ge-er" dan masih memberi peluang
dengan berkata, "ah, mungkin saja dia hanya lupa" atau "ah, dia lagi
sibuk kali ya" dan terus menganggap bahwa si dia itu mengkategorikan kita
sebagai teman baiknya. Tapi kalau sudah terjadi hingga berulang-ulang
bahkan mungkin bertahun-tahun, rasanya wajar kalau akhirnya kita merasa
patah hati alias bertepuk sebelah tangan. "ya ampun, ternyata aku ga
dianggap toh" hehehe.

Ga semua orang yang aku anggap teman dekat memang memperlakukanku
seperti itu. Mereka masih berbaik hati meluangkan waktu hanya sekedar say
hi lewat email maupun sms. Kalau kita bertemu, tegur sapa dan senyuman
masih terasa hangat seperti dulu.

Dan walaupun banyak juga kejadian "bertepuk sebelah tangan", tapi
yang membuatku benar-benar "patah hati" pun juga hanya sedikit (artinya,
masih "pede" dan "geer" menganggap bahwa kami ini teman baik). Dalam
ingatanku, sampai hari ini, patah hati "baru" terjadi 2 kali. Tapi wajar
ga ya kalau patah hatinya itu benar-benar membuat kita kecewa dan
akhirnya berasumsi bahwa selama ini ternyata dia tidak menganggap kita teman
baiknya? karena, ada satu hal lagi yang harus aku sadari, bahwa
definisi teman baik pun mungkin berbeda, dan bisa jadi, bagi mereka yang
membuatku patah hati, tidak memberi kabar secara pribadi, bukan berarti aku
ini bukan teman baiknya.

Entahlah. Mungkin akunya aja yg terlalu rumit kali ya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home