Wednesday, August 01, 2007

harry potter dan homeschool

Cerita garis merah "the boy who lived" melawan kegelapan/kejahatan yang ada di buku Harry Potter bukanlah hal baru dalam kancah perfiksian (hallaa bahasa apa pula ini :D). Tapi sepanjang pengalaman daku menjadi penikmat fiksi (baik baca maupun nonton), sepertinya baru Harry Potter ini (maap klo referensku salah ya! maklum, masih sedikit bacaannya) yang walaupun sudah diprediksikan punya takdir akan melawan you-know-who di akhir cerita, tetep aja disekolahin ke hogwart, padahal tokoh-tokoh lain cenderung dihomeschoolkan (maksudnya belajar secara khusus) untuk persiapan diri melawan si musuh bebuyutan yang tak kenal lelah mencoba menjatuhkannya.

Jadi pertanyaannya adalah kenapa ya? Apalagi Dalam setiap bukunya, Harry Potter selalu digambarkan perlu dilatih secara khusus untuk mempersiapkan diri. Selalu ada waktu-waktu khusus dimana Harry Potter belajar secara pribadi dengan salah satu gurunya. Jadi, kenapa harus tetap ke sekolah??

Pertama,

Hogwart adalah tempat paling aman kedua bagi Harry Potter selain rumah Bibi Petunia di London yang terlindungi oleh sihir pelindung Ibunya. Di Hogwart, Harry Potter bisa belajar sekaligus dilindungi, dan yang utama, untuk pertama kalinya, Harry Potter merasakan feel at home. Tapi tentu saja, belajar disekolah tidaklah cukup bagi Harry, dia tetap harus berlatih sendiri.

Yang kedua,

Seperti yang Dumbledore ingin jelaskan selama ini, Dia ingin Harry Potter bisa siap secara mental dan hati dalam menghadapi you-know-who, jadi bukan hanya sekedar skill alias kemampuannya menggoyangkan tongkat sihir. Bertahun-tahun disembunyikan di lemari tangga Bibinya (dan ternyata bermanfaat juga buat Harry terlindungi dari you-know-who), Hogwart tentunya menjadi tempat "Character building" buat Harry. Harry juga belajar bagaimana bersosialisasi, belajar berteman, belajar mempunyai musuh, dan melihat bahwa dunia tidak selamanya hitam dan putih. Hati Harry berkali-kali diuji oleh kemarahan dan kebimbangan, dan lagi-lagi dia harus memilih. Dumbledore lebih ingin Harry Potter siap secara MENTAL ketimbang SKILL, karena dengan "takdir" Harry Potter saat ini, tentunya skill Harry muncul secara natural dan hanya perlu dilatih sedikit.

Bagi tokoh yang lain, homeschool menjadi pilihan yang tepat. Skill mereka dilatih secara khusus, sehingga mereka lebih siap, sedangkan Mental mereka diuji dengan berhadapan dengan dunia secara langsung. Bukankah mereka justru lebih siap jika bisa melihat bagaimana hitam-putih dunia, dengan langsung merasakannya? Bukan hanya berhadapan dengan orang sebaya, tapi justru dengan homeschool mereka bisa langsung bersinggungan dengan orang-orang dari segala usia, ras, latar belakang, dan lain sebagainya. Itu kenapa tokoh chinmi dalam kungfu boy menempa dirinya diluar perguruan, atau tokoh lain akhirnya mengembara kemana-mana sebelum memenuhi "takdir"nya.

Bedanya dengan Harry, tentu saja, mereka tidak terhubung langsung dengan musuhnya (Harry terkonek karena bekas luka didahinya ituw lhow), sehingga mereka bisa bebas kemana-mana tanpa perlu "terdeteksi" secara jelas. Harry Potter tetap harus dalam perlindungan selama dia "belum siap" atau selama dia masih "anak-anak", dan tidak ada tempat yang paling aman selain Hogwart (menurut Dumbledore tentu saja).

--------------------------------------------------

Jadi apa yang bisa aku simpulkan dari buku Harry Potter dan hubungannya dengan Homeschool? (maksa ga sih? :P)

Pertama,

Idealnya sekolah memang lebih dari sekedar mendapatkan pelajaran dari guru dan bagaimana praktek, tapi juga tempat untuk character building, tempat anak mempelajari dunia juga...jadi kalo sekolah hanya fokus pada bagaimana anak mendapatkan nilai yang bagus...ya jangan dong, ayo kembalikan sekolah ke idealismenya!! Para Guru...jangan cuma "ngajar" aja ya....

Kedua,

Tetap saja, tidak cukup dengan sekolah. Sebagaimana Hermoine yang selalu self-educate dengan banyak membaca dan teman-teman Harry akhirnya belajar pertahanan ilmu hitam dari Harry Potter dan bahkan menjadi benar-benar bisa secara dilatih secara khusus, jangan menyerahkan sepenuhnya pendidikan pada sekolah, jangan berhenti self-educate!!

Ketiga,

Masalah sosialisasi selalu menjadi isu paling penting dalam homeschool, karena adanya pandangan anak yang homeschool terkurung di dalam rumah untuk belajar, justru anak homeschool juga menempa mental dan hatinya seperti anak sekolahan, cuma dia tidak terbatasi hanya pada teman sebaya, guru dan orang-orang yang berada disekolah, tapi justru dunia secara umum.

kekehehehehekekekehekekekehehkekehehe

0 Comments:

Post a Comment

<< Home