anak manja dan konsep cinta yang membelah
Hari itu aku berkesempatan membawa atala ke kantor. Sore-sore sambil menunggu dijemput ayah, kami pun duduk dibelakang kantor untuk makan bakso. Atala yang hari itu tidak tidur siang, tampak lelah dan mulai uring-uringan. Bagi dia, semua jadi serba salah. Bakso juga malas dimakannya. Aku mencoba tidak membuatnya makin parah dengan membiarkannya mengekspresikan emosinya yang mulai ga stabil karena kurang istirahat dan kecapekan. Sesekali aku juga mencoba menuruti kemauannya supaya merasa lebih nyaman.
Seorang Ibu yang duduk di depanku sepertinya keliatan tertarik melihatku tetap tenang dan tidak terpancing pada kerewelan atala. Lalu ga lama dia mulai berkomentar,
"Umurnya berapa mba?"tanyanya.
"2.5thn"jawabku.
"anak pertama ya?"tebaknya. Aku tersenyum mengiyakan.
"kalau sama anak, sebaiknya jangan dikasih semua cintanya mba"katanya mulai berkomentar. "jangan cinta-cinta bangget, cinta dikit aja"katanya lagi. "sisain buat adik-adiknya nanti"
Aku tersenyum mendengarkan.
"Anak saya ada 5"katanya. "Anak sulung saya...wuaduh, bandel bangget. hiperaktif!"
Lalu ga lama dia melirik ke atala (seakan-akan) menyelidik. "tapi kayaknya anak embak ga hiperaktif ya. anak saya mah hiperaktif bangget"
Karena aku hanya tersenyum mendengarkan, ibu itu ga meneruskan lagi. Ga lama, dia membayar baksonya dan beranjak pergi.
*********************************
Aku jadi ingat, salah satu teman kantorku juga pernah berkata seperti ini, "aku pengen tau nanti mba wiwiet pas udah punya anak lagi gimana ya sama atala...masih sama ga ya sama sekarang..."
Lalu, saat aku bercerita atala mudah menangis karena sensitif bukan karena cengeng, salah satu teman milis juga pernah ada yang bertanya, "aku baru tahu ada anak yang sensitif, aku pikir anak menangis itu karena manja sama orangtuanya. Jadi bagaimana ya membedakan anak yang sensitif dengan anak yang sekedar manja aja sama orangtuanya?"
************************************
Perkataan ibu-ibu ditempat tukang bakso kemarin membuatku berfikir panjang. Kenapa harus ragu mencintai anak sepenuhnya? biar cintanya bisa dibagi dengan anak-anak yang lain (yang akan lahir kemudian)? ketika ia berkata, anak pertamanya bandel banget, apakah maksudnya itu sebagai hasil dari cinta yang terlalu banyak? seperti perkataan teman milisku, cinta yang berlebihan dari orang tuanya membuat anak manja dan cengeng? atau teman kantorku yang berkata seperti itu, seolah-olah kalau punya anak lagi, maka akan berkurang cintanya bagi anaknya yang lain?
Aku mencoba mencari makna kata "manja" dari kamus bahasa Indonesia kontemporer, dan mendapat definisinya seperti ini:
1. Kurang baik kelakuannya sebab selalu dituruti semua kemauannya dan tak pernah ditegur
2. Sangat kasih, mesra dan jinak kepada
3. gejala normal pada anak-anak umur 4-6 tahun untuk selalu mendapat perhatian dari orangtua atau lingkungannya.
Ternyata ada 3 definisi, dan artinya, kata manja sendiri memiliki makna ambigu, bisa negatif, bisa positif.
ada lagi kata "memanjakan" yang didefinisikan seperti ini: "memperlakukan dengan penuh kasih sayang sehingga menjadi manja".
Lho...apa artinya menjadi manja? menjadi kurang baik kelakuannya? atau menjadi sangat kasih, mesra? kok artinya jadi ambigu ya.
Apakah memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang = menuruti semua kemauan anak dan tidak pernah menegurnya?
Lalu, apa salahnya ketika anak yang belum bisa mengelola emosi dan belum pandai mengekspresikan diri dengan cukup baik tiba-tiba rewel karena suatu hal yang dia tidak merasa nyaman? bukankah kita sebagai orangtuanya atau orang yang lebih dewasa darinya yang nanti akan mengajari dan memberi contoh bagaimana sebaiknya mengekspresikan diri?
**************************************
Tentu saja, kalau kita melihat memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang = menuruti semua kemauan anak dan tidak pernah menegur...wajar saja kalo akhirnya orangtua menjadi "takut" terlalu memanjakan anak dan pada akhirnya takut "memberikan kasih sayang yang penuh".
Tapi...kenapa kita harus memandang cinta seolah-olah seperti sebuah kue besar yang dibagi-bagi...karena itu bukannya jadi ada anggapan, jangan membagi porsi kue terlalu besar pada anak yang satunya...nanti anak yang lain tidak kebagian..lho...apa benar seperti itu?
bagaimana kalau kita memandang cinta yang ketika terbagi ia membelah menjadi dua cinta yang sama besar? bahkan pada hal-hal yang menjadi favorit pun, terkadang kita kesulitan untuk memilih mana yang menjadi ter-favorit...kenapa tidak bisa kepada anak kita? bukankah Allah sudah memberikan contoh bagaimana satu menjadi dua, tiga, empat, lima, enam, yang sama besar?
Aku termasuk yang percaya, orang tua..khususnya seorang ibu, akan mampu memberikan cinta yang begitu besar kepada anak-anaknya...sama besarnya, dan tidak akan pernah kehabisan cinta untuk kembali dibagi-bagi lagi...karena cintanya membelah, bukan terbagi...
Anak-anak adalah orang-orang yang loveable, mudah dijatuh-cintai. Makanya, aku berani bilang, jangankan pada adik atala yang akan datang...bahkan aku saat ini tetap mencintai keponakan-keponakanku sama besarnya bahkan setelah atala lahir. Aku juga tetap akan punya sekeranjang cinta yang lain untuk para keponakanku lainnya yang belum lahir. Kenapa masih banyak para om-tante yang bisa langsung cuek pada para keponakan setelah punya anak sendiri?
jadi, tak perlulah kuatir kita memberikan cinta "terlalu banyak", karena harusnya mencintai sepenuh hati bukan berarti kita membiarkan anak kita tidak bisa apa-apa (karena semuanya dilayanin)







2 Comments:
Kalau menurut saya sih (dari pengalaman pribadi juga), yang bahaya kalau anak yang terbiasa dengan kehidupan mendekati ideal berteman dan terpengaruh oleh anak yang kurang perhatian atau kurang motivasi dari orang tuanya.
Dikhawatirkan nanti (anak yang kurang perhatian itu) akan mencoba "memberi pelajaran" pada anak yang terbiasa pada kehidupan mendekati ideal.
Sebagai salah seorang korban dari orang semacam itu, dalam waktu kurang lebih dua tahun, saya mulai merasa disiksa, orang-orang yang saya cintai mulai dia sakiti, saya juga dia sakiti, kemudian dia katakan kepada saya, "ini adalah kehidupan".
Sisanya, itu kembali kepada keyakinan Anda. Tapi ingat, HATI-HATI dengan orang semacam ini, terutama saat usia anak Anda mulai dewasa dan mulai belajar hidup sendiri (+-21 tahun).
Orang-orang ini mungkin ada di sekitar anak Anda, mungkin tampak sebagai orang baik, akrab, dan pengertian, tetapi di balik itu... Iblis.
Kalau perlu, sering-seringlah ceritakan anak Anda kisah nyata yang semacam ini sebelum ia mulai hidup mandiri..
Maaf, saya kira perlu ada tambahan lagi, karena saya benar-benar khawatir ada orang yang senasib dengan saya.
Sebagai contoh kasus, orang (yang kurang perhatian tersebut), karena telah akrab dan kenal baik dengan saya, atau karena dia kenal dengan orang yang kenal baik dengan saya, dia berusaha mengorek informasi tentang saya, mengetahui kehidupan saya, dan segala sesuatu yang bukan urusannya.
Dengan motif yang tidak diketahui, entah karena iri, atau apa, dia berusaha menghasut orang2 yang cukup penting, seperti dosen, bahkan dosen penguji. Menjelek-jelakkan saya di balik muka manis, berusaha menggagalkan ujian, lalu setelah semua tercapai dia katakan "gimana rasanya?" dengan penuh kepuasan. Monster semacam itu benar-benar ada, hidup, dan tampak ramah, dan tidak cuma seorang (terjadi sekitar thn 2004-2009).
Bahkan kalau perlu orang itu bisa saja membuat anak anda menjadi seperti dia. Dengan tuntutan adaptasi atas lingkungan buruk, mau tidak mau saya harus menjadi seperti dia, tidak berperasaan, licik, keji, dan mungkin lebih tepatnya bersifat keiblis-iblisan. Saat ini saya mulai bebas (sekitar tahun 2009 keatas) setelah lolos dari S1.
Memang sangat mengerikan, tapi ini benar-benar terjadi pada saya. Mudah-mudahan tidak akan terjadi pada siapapun selain saya.
Tetap cintai anak Anda, dan kalau Anda perlu alasan, maka ingat bahwa Anda ingin anak Anda tidak menjadi monster yang saya ceritakan.
"Ketika Anda mencela/menghujat anak Anda, boleh jadi Anda mengajari anak Anda mencela/menghujat orang lain"
"Ketika Anda memuji anak Anda, boleh jadi Anda mengajari anak Anda untuk menghargai orang lain"
Post a Comment
<< Home