Wednesday, September 17, 2008

Camar

S A T U

Aku adalah burung camar yang terperangkap oleh sugestinya sendiri. Aku pernah berfikir, aku takkan pernah bisa lepas dari pantaiku. Jika aku pergi, aku akan mendengar gelombang pantai berseru menyuarakan kerinduan. Lalu desah angin menari bersama lambaian daun merebakkan wangi.


Aku adalah burung camar yang baru saja disadarkan akan anugrah kedua sayapku. Dengan bulu-bulunya indah dan kepakannya yang sanggup memanggil ribuan angin berkumpul bersamaku. Aku mencoba melompat tinggi ke angkasa, tapi aku selalu kehilangan atmosfer. Maka aku akan kembali mencari nafasku yang tertinggal pada dahan. Kucoba lagi dan terus kucoba, tanpa kusadari lompatanku semakin tinggi. Aku mulai belajar menyimpan udara dan menahan nafas. Kadang aku jadi lupa menatap langit dan menikmati birunya. Tapi aku bisa melompat.


Jika kugerakkan sayapku, suaranya menyadarkanku bahwa aku bisa terbang. Bahkan mungkin menukik, menari, dan melayang, seperti burung-burung yang lain. Maka aku mulai belajar mengepakkan sayap. Semakin hari semakin kencang, tetapi aku tak juga beranjak dari pijakan. Angin-angin yang berkumpul tanpa ragu merayuku untuk mulai bergerak. Mereka lelah menerbangkan daun-daun dan ranting-ranting. Mereka sudah bosan menggerakkan dahan.


Maka aku pun tertatih berjalan, lalu mulai melompat. Aku membumbung ke angkasa. Dengan gugup, kucoba menyeimbangkan nafasku dengan gerak sayapku.

“Cobalah melayang”bisik Angin.

Aku menghentikan kepakanku. Aku melayang !! Aku menatap sekeliling.

“Aku melayang, angin”desahku.

Kubiarkan langit biru tersenyum merangkulku. Lalu awan-awan putih berarak mengiringi langkahku. Aku hanyut sebentar. Tiba-tiba sesuatu menyusup kedadaku. Membuatku sesak. Keseimbanganku goyah.

“Tenang Camar, kau punya kami”hibur Awan putih.

Aku menggeleng. “Aku tidak bisa bernafas. Aku harus kembali”

Langit biru melepaskan rangkulannya dengan berat hati.

“Kerinduan telah memenjarakanmu”katanya.

“kau harus bisa mengatasinya, atau kau takkan pernah lepas.”

“Aku adalah burung camar”Aku mengingatkan.

“Aku takkan pernah lepas”

Angin dengan lembut membimbingku mendarat.

“Besok cobalah lagi. Kita akan belajar menari”katanya.

Aku mencoba mengatur nafasku kembali.

“Rasanya sesak sekali. Entah apa aku masih bisa berlatih”Aku mengatakan keenggananku.

“Tentu saja ingin. Kau sama sekali belum berkunjung. Aku baru saja menemanimu meraih langit, tapi kau lupa menatap ke bawah. Apa kau tak ingin tahu, seperti apa lautan dari sudut lain?”tanya angin.

Aku tercenung. Aku jadi ingin bertanya, apa gunanya mengetahui lautan, untuk apa meraih langit, dan apa artinya belajar terbang. Tapi aku mengangguk jua. Dan kami pun membuat janji untuk bertemu esok pagi.

D U A

Entah kini sudah minggu keberapa, aku mengarungi langit biru bersama angin. Awan-awan putih bahkan memanjakanku dengan membiarkanku bermain sepuasnya menerjang dan menukik diantara mereka. Terkadang mereka menertawakanku yang masih tersenggal-senggal dan terbelenggu kerinduan.

“Suatu hari kau akan lupa pulang”kata Mereka.

Tapi aku tak pernah percaya.

Dan ternyata pasir-pasir dipantaiku pun sudah mulai menyerukan rasa keberatan. Katanya aku terlalu asyik dilangit, hingga terkadang lupa bahkan hanya sekedar untuk menyapa mereka. Bahkan batu karang ikut mengingatkanku akan kesenanganku bertengger dibahunya yang kini sudah hampir kulupakan.

Tapi semua itu seperti tak ada artinya bagi angin.

“Kau bahkan belum berkunjung” Ia selalu berkata.

Angin masih punya banyak rencana untukku.

Seperti hari ini, seperti biasa, aku mulai bersiap memulai lompatanku. Angin, dengan sabar menantiku di atas sana.

“Cobalah kemari”serunya.

“Aku ingin tahu, sudah seberapa jauh kau mampu melaju !”
Aku melompat sekuat tenagaku. Lalu mengepakkan sayapku sepenuh hati. Langit biru kembali merangkulku, dan aku terbang bersama burung-burung yang lain. Awan-awan putih pun masih setia mengiringiku. Tapi angin, entah dimana.

“Aku ingin mencoba lebih tinggi”desahku.

“Apa aku mampu ?”

Aku tak mendengar komentar awan, juga seruan langit. Entah apa yang mereka katakan. Aku terus melaju ke atas. Seberkas sinar menangkapku. Aku tahu, ini milik matahari. Tapi aku belum pernah melihatnya secara utuh. Angin selalu melarangku mendekatinya.

“Selamat siang, matahari !”seruku.

Aku melihat senyum matahari ! menyembul dibalik sinar-sinarnya yang menyilaukan. Ia tampak begitu megah.

“Halo Camar. Sepertinya kau sudah mulai bisa mengatur nafasmu”katanya.

Ini pertama kalinya aku mendengarnya berbicara. Begitu berat dan lugas.
Aku berusaha lebih dekat lagi, tetapi bulu-buluku terasa memanas. Aku meringis kesakitan.

“Sebaiknya kau pergi, sebelum mengalami luka bakar”nasehat matahari.

“Tapi aku ingin jadi temanmu”aku berkata.

Aku mendekat lagi. Dan kini, sayapku mulai susah digerakkan. Ia ciptakan rasa nyeri yang dasyat.

“Kita adalah teman. Ingin kau buktikan apalagi, Camar ?”tanya Matahari.

“Apakah hangatku tak pernah samapai padamu ? Adakah desir kepakanmu tak pernah mampi ke telingaku ?”

Langkahku terhenti. Aku terpana.

Tiba-tiba angin merangkulku dari belakang, dan awan-awan putih berkumpul menutupi cahaya matahari. Warna mereka semakin lama semakin hitam.

“Mari kita pulang, camar”Bisik Angin.

“Sebentar lagi hujan turun”

Sebelum pergi, aku berusaha mencari jejak matahari. Tapi tak kutemukan jua. Aku pun turun kembali ke sarang. Aku tak mengerti mengapa berusaha dekat dapat pula menggores luka. Maka kuhabiskan sisa hari itu untuk membasuhnya. Angin, entah dimana.

T I G A

Kemarin aku baru saja dipertemukan dengan keindahan yang mempesona. Senja itu, ia tiba-tiba saja hadir menghiasi telaga tempat aku biasa berteduh. Begitu indahnya, hingga mempesonaku tanpa ampun. Aku pun terbang menghampirinya.

“Halo Camar !”Ia menyapa lembut.

Aku terkejut bukan main. Tapi ia langsung menghilang, entah kemana. Aku baru tahu dari angin, bahwa ia bernama pelangi. Ketika aku bertanya dimana aku bisa menjumpainya, angin hanya tersenyum penuh arti.

“Kau hanya bisa menantinya datang mengunjungimu”katanya.

Aku tak mengerti.

“Tunggulah ia, camar, dan ia akan mengajarimu tentang cinta.”

Dan aku menunggunya hari ini. Aku terus melayang mencarinya di sudut-sudut senja karena aku tak ingin ia menghilang lagi seperti kemarin. Tapi lautan dan batu karang menertawakanku melalui gemuruhnya. Aku tak mengerti.

Tiba-tiba awan-awan putih berubah menjadi hitam, dan matahari bersembunyi dibalik gelap.

“berteduhlah Camar, sebentar lagi hujan datang”tegur Angin.

Dan aku pun berteduh diantara batu karang, meski aku tak mengerti, mengapa aku harus berhenti melayang, hanya karena kehadiran hujan.

“Karena hujan mengundang dingin untuk menyergapmu”Angin pernah berkata.

Tapi aku tak berkeberatan sesekali menjamu dingin bertamu ke tubuhku. Dan aku juga ingin sesekali bercakap-cakap dengan hujan. Mungkin saja ia bisa membantuku menemukan pelangi. Aku ingin tahu, kekuatan apa yang ia miliki, hingga terkadang ia mampu membuat angin mengumbar marah, hingga menggetarkan seisi alam.

Dan hujan pun berhenti. Pergi meninggalkan jejak-jejak embun dan kesegaran udara yang jernih sekali. Aku melayang rendah. Sinar matahari terasa hangat diantara bulu-buluku. Ah itu dia. Aku tersenyum senang. Pelangi, dengan kecermelangan warnanya menyembul diantara awan-awan.

“Halo Camar”sapanya lagi.

Aku terbang mengelilinginya. Aku baru tahu, ternyata ia hanya bias cahaya yang tak mampu digenggam, seperti fatamorgana.

“Mungkin aku fatamorgana yang nyata”seperti membaca pikiranku, ia berkata.

“Ajari aku tentang cinta”Aku memohon.

Pelangi tertawa.
“Mengapa kau bertanya pada ilusi yang sebentar lagi akan lenyap ?”

Aku tak menjawab. Tapi hatiku tak berhenti mengagumi keindahannya.
“Kau sungguh indah”kataku.

“keindahanku nyata. Tapi tidak abadi”ia berkata.

“setidaknya engkau nyata”Aku bersikeras. Mengapa harus abadi, jika keindahan yang nyata ada didepan mata ?

“Aku adalah bukti cinta”Pelangi berkata.“Karena, aku ada atas pertemuan butir cahaya dengan butir air sisa hujan. Setiap pertemuannya menyiratkan cinta. Setiap getarannya menebarkan rindu. Dan semua itu direkam dengan adanya kehadiranku.”

“Engkau sangat indah. Ornamen cinta yang agung. Sunggu bukti cinta yang jelas”aku berkomentar.

Pelangi tertawa. Dan ia mulai membias sedikit demi sedikit.
“Aku adalah fatamorgana yang nyata. Sebentar lagi aku menghilang. Apakah itu cinta ?”Ia menggeleng sendiri.

“Jangan bertanya tentang cinta padaku. Aku hanya sebentuk ilusi.”

Dan kini ia benar-benar menghilang. Aku mengantar kepergiannya dengan berat hati. Tak ada kata-kata perpisahan. Atau memang tak perlu ada. Seperti kata angin, aku hanya perlu menantinya untuk datang lagi. Memantul di tepi telaga. Seperti kemarin.

(dibuat tahun 1998......woow...udah 10 tahun yang lalu ya...)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home