paranoid atau safety awareness yang tinggi?
Di penghujung episode ke-17 serial HEROES kemarin, pada akhirnya Mr. Linderman muncul setelah namanya selalu disebut2, hampir disetiap kesempatan. Disitu, Mr. Linderman bertanya kurang lebih seperti ini kepada Nathan Petrelli:
"Pilih yang mana? hidup bahagia atau hidup bermakna?"
"kau tidak bisa mendapatkan keduanya. Supaya orang bisa hidup bahagia, dia harus hidup hanya untuk hari ini. dia tidak boleh dibayangi oleh masa lalu dan tidak boleh memikirkan masa depan."
"sementara, untuk mendapatkan hidup bermakna, orang harus bergumul dengan masa lalu dan terobsesi pada masa depan. Jadi, kau pilih yang mana nathan?"
Pas mendengarnya, Aku senyum-senyum sendiri. Aku sih ga bermaksud untuk mendebat atau memberikan opiniku sendiri (orang pasti punya definisi yang beda-beda tentang hidup bahagia dan hidup bermakna), tapi seru aja denger Mr. Linderman ngomong begitu.
Aku jadi inget saat dulu pernah membahas pada diri sendiri (hah? bisa ya? :-p), apa ya bedanya aku saat sebelum menikah dengan sesudah menikah? lalu aku bisa menjawab, kalau sekarang, setelah jadi ibu, sepertinya aku lebih sering (kalau ga mau dibilang parah dan paranoid, kekekekek) mencemaskan masa depan, hihihihi. pada akhirnya, aku jadi lebih banyak berfikir, lebih banyak berencana, dan lebih berhati-hati. dan kadang-kadang, rasanya melelahkan saja. :">
saat sebelum menikah, aku lebih relax dan lebih cuek. Masa depan aku lihat seperti ujung atau tujuan, atau mungkin tempat dimana harapan aku gantungkan, kehidupan yang lebih baik, dlsb. Intinya, aku melihatnya dengan optimis dengan rencana-rencana besar dan luar biasa. Aku tidak kuatir dengan masa lalu, dan aku hidup untuk hari ini. rilex.
sekarang, saat punya anak, aku jadi lebih sering mencemaskan masa depan yang belum pasti. Tentu saja, masa depan yang aku cemaskan bukan hanya sekedar tingginya biaya pendidikan (apakah anakku bisa mendapatkan pendidikan yang layak?), biaya hidup yang tinggi (gaji kok ga cukup ya?), karir yang ga jelas (apakah aku akan stuck disini terus?), dan lain sebagainya.
masa depan yang aku cemaskan juga menyangkut hal-hal kecil, misalnya, mungkin saja hanya 2 menit jauhnya dari saat ini. Terutama yang menyangkut Atala.
cemas saat atala naik motor (helmnya jangan lupa!)
cemas saat jalan-jalan ke mal (takut diculik!)
cemas saat atala demam (kejang is on the way?)
saat kami masih tinggal di kampung melayu, aku mencemaskan kemungkinan atala bermain dipinggir jalan (karena disana tidak ada lapangan) dengan lalu lalang motor dan mobil, lingkungan yang kurang bersih, kali yang lumayan lebar didekat rumah, matahari yang terlalu terik (karena ga ada pepohonan), dan juga kata-kata yang kurang sopan terdengar dimana-mana diantara teman dan bahkan orang dewasa. Fakta bahwa sepanjang hari atala tidak ada sang mama, semakin membuatnya lebih buruk. Anak-anak lain dilingkungan situ, setidaknya ada sang ibu in case of emergency. Bagaimana kalau kepalanya bocor saat bermain? bagaimana kalau terjadi pelecehan seksual? bagaimana kalo tertabrak motor? etc.
beberapa teman sempat menertawakanku karena mungkin aku dianggap terlalu paranoid. Apa atala mau dikurung saja? kan kasian anaknya, kata mereka.
Aku sih ga bermaksud mengurung atala dari dunia yang tidak ramah ini (halla...padahal dulu kayaknya aku menganggap dunia ini indah banget deh :-p), tapi apa berlebihan ya kalo aku berharap atala bisa berlari2an ditempat yang lebih aman? (dan aku pun mulai bertanya-tanya tentang kota jakarta yang kurang child-friendly, dll. deh..halla lagi)
saat ini, bahkan aku bisa sebegitu ngerinya melihat anak-anak yang bermain sepeda, sepatu roda, skateboard, bahkan skuter tanpa pengaman seperti helm dan pengaman lengan. Kalau suatu hari aku mengizinkan atala naik sepeda lengkap dengan pengaman, diketawain ga ya? Aku inget dulu atala waktu bayi dibawa jalan-jalan ke mbahnya keluar, dan aku ribut sama si ayah karena atala tidak dipakein sendal dan topi terlebih dahulu.
"anginnya kan kencang"belaku waktu si ayah hanya melihatku dengan mengernyitkan dahi
*cuma dibawa ke depan gang gitu lho* mungkin gitu ya pikirannya.
kadang aku harus mengingatkan diri sendiri, just don't freak out too much wiet.
tapi kemarin, di milis funky mom dibahas tentang safety awareness, dan aku pikir2, ternyata memang ada bedanya antara being paranoid dengan safety awareness yang lumayan.
ini adalah safety awareness yang dibahas dari milis:
1. membiarkan anak tanpa pengawasan atau jalan sendiri di tempat2 rame (mal, dll). Kadang2 kita menganggap anak umur 7 tahun sudah cukup besar untuk jalan sendiri... tapi sebenernya itu salah...
2. tidak menggandeng anak atua menggendong (klo anaknya masih batita ketika mau naik tangga berjalan
3. membiarkan anak naik ke dalam troli (bukan ke tempat khusus duduk di troli). Apalagi sampai membiarkan anak berdiri2 di dalam troli (pengalaman pribadi nih)
4. membiarkan anak berdiri di motor. Memang sih diapit oleh dua orang, dan dipegangi, tapi itu bahaya banget...
5. membiarkan anak duduk di depan motor. Aku sering lihat, si anak tertidur, dan si pengemudi motor hanya mengendalikan motor dengan tangan satu, sementara tangan lainnya megangin si anak...
6. memangku anak ketika menyetir mobil. Sering kali excuse-nya adalah "Kan cuma di dalam kompleks".
7. Nggak menyediakan helm untuk anak yang ikut naik motor. Bapak ibunya sih pakai, tapi anaknya cuma dikasih topi..... Bingung deh liatnya.........
8. Memangku bayi atau balita di mobil dan duduk di depan/sebelah yang nyupir. Yang mangku memang pakai seatbelt, lah si bayi/anak protectionnya apa? Siapa yang bisa jamin bagaimana reflect tangan kita kalau ada apa2?
(memangku anak dikursi depan disamping pengemudi. Sama aja bahayanya.
Ibunya atau pemangkunya mungkin pakai seatbelt tapi anaknya kan tidak. Lebih
baik anak dipangku dikursi belakang. Lebih bagus lagi kalau anaknya bisa
diberi car seat sendiri.)
9. harus selalu pake car seat untuk anak
10. Anak kalo main sepeda, sepatu roda, atau otopet selalu pake helm, pelindung siku, lutu, plus sepatu. Banyak yg nggak bekalin anak pake pelindung siku, lutut. Padahal itu murah lho.
11. Kalo ke Mall, pake sepatu ketutup. Salah satunya adalah untuk keamanan kalo lagi naik escalator.Kalo pake sepatu kebuka dan ngga dijagain takutnya bisa kejepit di escalator. Keamanan yang lain untuk jaga-jaga kalau kelindas troli belanja supermarket.
12. Awasi anak kita kalo di sekitar rumah/ komplek kita ada kolam. Walaupun
kolamnya cetek, tapi gak menutup kemungkinan si anak bisa kehabisan
nafas jika jatuh di sana. Terlambat beberapa menit saja bisa
menyebabkan
13. Mau nambahin. Kunci pintu rumah dan simpan kuncinya ditempat yang tinggi. Anak usia 2-3 tahun kadang-kadang sudah bisa membuka pintu, bahkan dengan kuncinya.
so far, dapetnya baru segitu. Wah, aku jadi ngerasa ada temannya. Kalau dibilang paranoid...ternyata sudah banyak gerombolan ibu2 yang sama kadar paranoidnya...kekekekekek







0 Comments:
Post a Comment
<< Home