menanamkan rasa cinta tanah air
FYI,
Ines setiawan adalah praktisi homeschool yang berdomisili di Tangerang. Suaminya orang korea, dan anaknya, Choi Da Hye (8.5 tahun) homeschool sejak awal (tidak pernah sekolah). Berikut ini sharing dari beliau:
Pagi itu telpon berdering, rupanya dari kedutaan besar Korea Selatan di Jakarta yang memberitahukan adanya perayaan kemerdekaan Republik Korea yang jatuh pada tanggal 15 Agustus di Jakarta Korean School. Petugas menekankan pentingnya anak-anak yang tidak sekolah di sekolah Korea (termasuk homeschool) untuk ikut serta dalam acara ini. Petugas meminta ijin berbicara langsung kepada Da Hye. Selama menerima telpon dari petugas Da Hye berulang menjawab "Ne" yang artinya "Iya" tetapi matanya sangat berbinar-binar. Karena penasaran, saya bertanya kepada Da Hye apa yang dibicarakan petugas kedutaan kepadanya. Da Hye menjawab dengan senyum malu-malu "Ibu itu bilang, 'daehanmingug' (cara orang Korea menyebut negaranya yang berarti Korea raya) cinta sama aku dan aku sangat penting karena suatu hari nanti aku yang akan menjadikan 'daehanmingug' sebagai negara kuat. jadi besok harus datang."
Keesokan harinya bus dari kedutaan yang khusus membawa anak-anak di sekitar perumahan kami ke acara tersebut datang. Da Hye dengan senang dan tanpa ragu-ragu pergi sendiri tanpa saya. Sekepergiannya saya tersenyum sendiri 'hebat sekali pemerintah melatih petugasnya untuk berbicara seperti itu kepada anak-anak. Apalagi kepada anak yang hanya separoh Korea. Entah berapa juta anak yang mendengar itu dan merasa menjadi warga negara yang sangat istimewa dan terhormat, warga negara yang akan mencintai bangsanya.' Jadi teringat akan hari kemerdekaan Indonesia yang juga datang menjelang. Begitu banyak selebaran acara 17an yang diadakan di sekitar tempat tinggal kami, dari diskon merah putih di sejumlah hypermarket sampai permainan khas 17an di lingkungan, mall, dll. Tiba-tiba perasaan menjadi kecut, 'seandainya saja ada seseorang yang mengucapkan kata yang sama kepada Da Hye tentang betapa pentingnya dia (dan semua anak-anak lain) bagi Indonesia dengan sungguh-sungguh. '
Malam ini saya putuskan untuk mengucapkan kalimat itu sendiri kepadanya besok pagi. Kami sudah membuat janji untuk membuat masakan "urap-urap" di pagi hari. Saya akan mengucapkannya pada saat itu. Mungkin orang yang mendengar akan mentertawakan saya, tetapi biarlah seorang ibu menjadi bahan tertawaan yang penting seorang ibu sudah menjalankan satu tugas lagi. Kalau anak tumbuh menjadi individu yang cinta akan bangsa ini, perasaan sedih karena ejekan/tertawaan/ cemooh terbayar sudah.
Ines Setiawan







0 Comments:
Post a Comment
<< Home